Posted by: Hendra Siry | 7 November, 2011

Ekspor Perikanan ke AS Sumbang 30 Persen

Jakarta I Jumal Nasional,
Meski perekonomian Amerika Serikat (AS) tengah melesu, namun nilai ekspor perikanan Indonesia ke AS menyumbang 30 persen atau USS660 juta dari target ekspor yang dicapai hingga Agustus 2011 sebesar US$2,2 miliar.

Sebelumnya, hingga akhir 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menargetkan ekspor mencapai USS3.2 triliun.

“Walau mengalami krisis. AS masih menjadi pembeli nomor satu produk perikanan Indonesia. Ini merupakan sinyal baik, karena dapat mendorong industrialisasi di mana pabrik-pabrik pengolahan bisa berkembang,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Hasil Pemasaran KKP, Victor Nikiju-luw, akhir pekan lalu di Jakarta.

Dia mengemukakan selama ini produk ekspor utama terbesar ke AS adalah tuna dan daging kepiting kalengan (crab meal).

Permintaan produk daging kepiting kalengan sendiri dinilai berkembang pesat di mana pangsa pasar pada tahun lalu mencapai 20 persen atau USS 580 juta dari total nilai ekspor US$2,9 miliar ke 27 negara Eropa.

Dengan adan3 permintaan yang cukup besar disertai faktor eksternal lainnya turut mendorong industri pengolahan lokal juga kebanjiran pesanan. Dimisalkan bisnis kepi-ting ukuran sangat besar (kina erah) yang berasal dari Kanada dan Norwegia dan biasa diolah di China kini mulai melirik m-dustrl pengolahan di Indone sia. Hal ini akibat adanya kenaikan biaya produksi di China.

“Indonesia punya nilai jual, sehingga kami sudah mengizinkan perusahaan lokal untuk mengambil daging dari Kanada dan Norwegia, lalu dikalengkan di sini. Sekarang, sudah ada empat perusahaan lokal pengolah dan pengekspor daging kepiting di antaranya, tiga di Surabaya dan satu di Jakarta,” kata Victor.

Selain itu, upaya pemerintah untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor perikanan ke Timur Tengah dan Afrika, potensinya juga semakin terbuka lebar terutama untuk produk ikan kalengan.

Menurut Victor selama ini ekspor ikan kalengan ke dua wilayah tersebut didominasi Thailand dan Maroko. Namun, karena faktor upah buruh yang naik di Thailand dan konflik internal Maroko jadi berimbas positif bagi industri pengolahan di Tanah Air.

“Saat ini, ekspor ikan sar-den kalengan (canned sar Jen) ke wilayah Timur Tengah dan sedang naik. Di Afrika sendiri sedang ada tren masyarakatnya mengonsumsi ikan sarden kalengan, ini juga mungkin karena kondisi perekonomian di sana yang mulai membaik,” ujarnya. ( listya Pratiwi )

Sumber : Jurnal Nasional 7 November 2011 Hal 15


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: