Posted by: Hendra Siry | 23 July, 2011

Berpulangnya Sang Nakhoda

Obituari oleh : Susanto Zuhdi
Sumber: Kompas Cetak, 21 Juli 2011

Tak hanya di Tanah Air, rekan almarhum di kalangan sejarawan internasional—khususnya Asia, Australia, dan Eropa—tentu merasa kehilangan
atas kepergian Adrian Bernard Lapian, sejarawan terkemuka, guru utama, dan sahabat yang santun.

Nakhoda pertama sejarawan maritim Asia Tenggara ini tutup usia pada Selasa (19/7) pukul 20.00 WIB setelah kurang dari dua bulan dirawat karena tumor di kepala. Sejarawan pertama yang memperkenalkan dimensi laut untuk memahami sejarah Indonesia ini lahir di Tegal, 1 September 1929.

Sebagai sejarawan, Lapian dikenal memiliki gaya penulisan yang mengalir dengan diksi yang cermat. Prof Taufik Abdullah pun mengakui kepiawaian Lapian dalam hal menulis. Nyaris tak ada celah yang menjadi kelemahan, begitu pernah Taufik berkomentar. Sementara Anthony Reid, sejarawan dari Australia, pernah mengatakan bahwa tidak ada sarjana Indonesia yang telah mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan lebih baik daripada Lapian.

Tak banyak sejarawan Indonesia yang melahirkan konsep sejarah. Namun, khusus dalam hal konsistensi, mungkin hanya Lapian yang secara terus-menerus mengembangkan konsep dari telaah sejarah.

Konseptualisasi sejarah yang dilakukan Lapian diawali disertasinya di UGM pada 1987. Dipengaruhi Fernand Braudel, Lapian ”memindahkan” Laut Tengah ke Laut Sulawesi yang dikaji dalam abad XIX. Kajian sejarah yang mempertautkan wilayah daratan yang kini menjadi negara bangsa merdeka: Filipina, Malaysia, Brunei, dan Indonesia, memberi banyak hal yang sekarang menjadi isu perbatasan kedaulatan wilayah, khususnya di laut. Dari kajian itu juga Lapian mengonseptualisasikan ”Orang Laut, Raja Laut, Bajak Laut” sebagai agensi sejarah. Konsep itu menyumbang peranti analisis sejarawan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi gejala yang sama di wilayah lain.

Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar tidak tetap pada Fakultas Sastra UI (1992), dengan sangat menarik Lapian memadankan ”Sejarah Nusantara (sebagai) Sejarah Bahari”. Padahal, kedua istilah itu berbeda. Dijelaskan begini: ”Nusa” artinya ”pulau” (yang dimaksud Jawa) dan ”antara” berarti ”yang lain” (pulau-pulau selain Jawa), yang dalam hubungannya tidak terpisah karena ”di-per-antara-i” oleh laut. Istilah ”bahari” selain bermakna ”dahulu kala” dan ”elok sekali” juga berarti tentang ”laut”. Di situlah pertautannya.

Hal penting lain adalah tawarannya untuk memahami wilayah Indonesia bahwa ”daerah inti” bukan ”heartland” atau satuan pulau, melainkan suatu wilayah maritim yang memiliki letak sentral, yang merupakan sistem satuan laut.

Laut yang ditaburi pulau

Dalam konferensi IAHA (Asosiasi Internasional Sejarawan Asia) di Tokyo, 1994, Lapian mengemukakan istilah yang cocok untuk menggantikan konsep ”daerah belakang” (hinterland) dengan hintersea untuk memahami wilayah seperti Indonesia. Ini sangat beralasan sebab bagaimana mungkin negeri dengan ciri geografis laut luas yang ditaburi pulau ada istilah hinterland.

Di pulau besar sekalipun, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Papua, dengan peran sungai-sungainya, daerah ”pedalaman”- nya akan terhubungkan dengan laut juga. Apalagi di kawasan timur, yang dijumpai banyak pulau kecil dan ramping, maka ”daerah belakang”-nya juga laut.

Dua tahun sebelum purnabakti dari LIPI (1990), ia diangkat sebagai guru besar tidak tetap ilmu sejarah di UI. Ia jadi ketua yang pertama pada
Program Pascasarjana Ilmu Sejarah UI. Dengan alasan tak mau dalam kondisi pikun selagi membimbing disertasi, ia menentukan untuk membimbing 10 orang saja. Namun, ternyata pikirannya masih jernih sampai saat ia terserang tumor di kepala itu. Kini, ketika kajian sejarah maritim semakin banyak diminati sejarawan, hal itu tentu tidak lepas dari peranan almarhum yang tak kenal lelah dan dengan kelembutannya terus mendorong para muridnya agar mau mengikuti jejaknya.

Saat menerima Habibie Award 2010, Lapian masih menegaskan pentingnya sejarah tentang laut dengan berpidato ”mendekati sejarah Indonesia dari laut”. Namun, Lapian pun pernah mengatakan begini: ”Sejauh-jauh berlayar, maka akan sampai ke daratan juga.” Itu artinya memang untuk memahami Indonesia harus digunakan dengan konsep Tanah Air.

Sejak memperingati ulang tahun ke-80 pada 2009, Lapian berencana menerbitkan karyanya yang bertebaran dalam bentuk makalah di berbagai fora nasional dan internasional. Tahun itu juga diterbitkan Sejarah Pelayaran dan Perdagangan Nusantara Abad Ke-16 dan Ke-17 (2009), kemudian tahun lalu terbit For Better or Worst: Collected Essays on Indonesian–Dutch Encounters (2010).

Tahun ini ia sebetulnya sudah mempersiapkan karya berikutnya mengenai sejarah Minahasa. Semangat untuk terus berkarya akhirnya harus terhenti, Tuhan berkehendak lain. Selamat jalan sang nakhoda, selamat berlayar ke pulau abadi.

Susanto Zuhdi Guru Besar Ilmu Sejarah FIB UI

Sumber:


Responses

  1. Kehidupan manusia boleh saja berhenti, tetapi semangat baharinya harus tetap ada bahkan tumbuh pada generasi berikutnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: