Posted by: Hendra Siry | 12 February, 2011

BI Gagal Dorong Perikanan

Jakarta, KOMPAS – Bank Indonesia telah gagal dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan ke sektor perikanan. Terbukti dari alokasi kredit ke sektor perikanan dalam lima tahun terakhir—tahun 2005-2009—hanya meningkat dari 0,22 persen menjadi 0,23 persen.

Demikian penegasan yang terlontar dalam diskusi bertema ”Revolusi Biru: Revitalisasi Kejayaan Kekuatan Ekonomi Kelautan Indonesia” yang berlangsung di Jakarta, Selasa (1/2). Diskusi terbatas yang diadakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Kompas ini menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad, akademisi ekonomi Sri Edi Swasono, akademisi perikanan Arief Satria, pengamat perikanan dan kelautan Riza Damanik, dan pelaku perikanan dan kelautan Bambang Suboko.

Arief, yang juga Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, menegaskan, pengembangan perikanan tangkap yang tangguh serta membangun industri pengolahan di dalam negeri terkendala pembiayaan. Perbankan Indonesia masih sulit percaya bahwa sektor perikanan masih menjanjikan, apalagi industri pengolahannya.

Arief mengutip data Bank Indonesia (BI) yang memperlihatkan pada kurun waktu tahun 2005-2009, alokasi kredit untuk perikanan hanya naik dari 0,22 persen menjadi 0,23 persen dari total kredit perbankan yang saat ini sekitar Rp 1.736,1 triliun. Tahun 2009, kredit perbankan mencapai Rp 1.597,14 triliun.

”Perbankan melihat sektor perikanan berisiko tinggi yang terlihat dari kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 11,76 persen, melebihi ambang batas NPL,” ujar Arief. Ambang NPL ditetapkan 5 persen.

Bambang Suboko, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo), membenarkan bahwa BI gagal dalam menjalankan fungsi intermediasi terhadap sektor perikanan. ”Kalaupun ada kredit, suku bunganya sampai 14 persen. Ini membuat industri perikanan sulit bersaing dengan industri sejenis di ASEAN yang memperoleh suku bunga kredit hanya sekitar 5 persen,” ujar Bambang.

Bambang lantas meminta pemerintah agar memperbaiki peranan perbankan, terutama dalam menurunkan suku bunga kredit. Kredit perbankan ini penting karena minat investor asing dalam sektor perikanan di Indonesia sangat rendah, akibat iklim investasi yang tidak menarik. ”Banyak regulasi dan batasan yang membuat kesulitan dalam berbisnis di sektor perikanan,” ujarnya.

Sementara itu, Riza Damanik, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), menegaskan bahwa pemerintah dan semua pemangku kepentingan agar memerhatikan peran penting dari perempuan nelayan. Dengan mengambil contoh kasus di Desa Morodemak, Jawa Tengah, Riza mengatakan, perempuan nelayan setiap hari beraktivitas selama 16 jam sejak pukul 2 pagi untuk mendukung aktivitas suaminya ke laut. Perempuan nelayan ini baru berakhir pukul 12.00 dengan terlibat di tempat pelelangan ikan.

Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan nelayan ini, ujar Riza, maka upaya memperbaiki kehidupan akan memperbaiki kehidupan sekitar 2 juta keluarga nelayan di seluruh Indonesia.

Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Tengah Subagyo di Kota Semarang, Selasa, menegaskan, Provinsi Jawa Tengah tidak mengimpor ikan dari luar negeri. Jawa Tengah justru menjadi pemasok ikan bagi daerah lain.

”Hasil perikanan di Jateng sangat mencukupi, bahkan surplus sehingga kami tidak perlu mengimpor ikan dari luar. Tetapi, saya tidak tahu jika ada ikan impor yang masuk ke daerah Jateng,” ujar Subagyo menanggapi ikan impor yang mulai memasuki pasar Indonesia.

Subagyo mengatakan, produksi ikan hasil budidaya ataupun ikan laut di Provinsi Jawa Tengah naik pada 2010 dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk perikanan budidaya, peningkatannya mencapai 17 persen menjadi 180.000 ton. Adapun untuk perikanan tangkap juga meningkat, meskipun hanya 2,0 persen menjadi sekitar 220.000 ton.

Daerah penghasil ikan lele di Kabupaten Boyolali, misalnya, memasok ikan hingga Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Demikian juga dengan ikan nila dan gurami dari Klaten dan Magelang.(ppg/bur/UTI/MKN/REN)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/15274286/bi.gagal.dorong.perikanan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: