Posted by: Hendra Siry | 16 October, 2010

Perubahan Iklim Ancam Warga Perkotaan

Kondisi perubahan iklim global mengancam penduduk miskin dan kelompok rentan yang berada di kawasan risiko bencana. Kesiapan pencegahan dan mitigasi bencana di masing-masing daerah sangat diperlukan agar risiko bisa diminimalkan. Mengacu situasi tahun 2010, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat musim hujan berlangsung hampir sepanjang tahun tanpa ada kemarau. Akibatnya, hingga September 2010 terjadi peristiwa banjir 196 kali. Kondisi tahun lalu atau rata-rata di tanah air terjadi banjir 150 kali.

Sugeng Tri Utomo, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB pada seminar Perubahan Iklim di Indonesia Rabu (13/10) mengatakan, banjir bandang di Wasior, Papua Barat, dengan korban jiwa lebih 100 orang itu mengindikasikan Indonesia harus sensitif perubahan iklim. Mereka yang miskin dan rentan serta tanpa pendapatan lain masih terancam bencana.

Dia menguatkan posisi Indonesia sangat rentan perubahan iklim. Tercatat ada tujuh kabupaten/kota menduduki 10 besar kota paling rentan perubahan iklim. Kondisi itulah yang harus diketahui terutama yang tinggal di perkotaan. Karena perubahan iklim sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat perkotaan. “Perkotaan itu daerah dengan sumberdaya dan infrastruktur yang terkonsentrasi. Ancaman nyata dengan perubahan iklim kota-kota mengalami proses urbanisasi cepat,” ujar dia.

Catatan terakhir, penduduk yang tinggal di perkotaan pada 2030 diperkirakan mencapai 90 juta jiwa. Pemerintah, telah memiliki Rencana Pembangunan Jangan Menengah Nasional (2010-2014) yang menempatkan lingkungan hidup dan pengelolaan bencana menjadi prioritas dari 11 prioritas pembangunan nasional. Adaptasi dan mitigasi telah disepakati untuk bisa dipraktikkan di wilayah rawan bencana.

“Masyarakat diingatkan tetap memanfaatkan sistem sosial yang terbangun selama ini. Untuk kerusakan alam masyarakat di ajak bagaimana turut mencegah, menghentikan dan membatasi kerusakan iklim. Antara lain, mengurangi pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.” Much Faturochman

Jurnal Nasional, 15 Oktober 2010
Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: