Posted by: Hendra Siry | 4 September, 2010

Keanekaragaman Hayati Pesisir dan Laut Indonesia dalam Tinjauan Perubahan Iklim

oleh

Hendra Yusran Siry[1]
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI Jakarta 10260
T: +62 (21) 53650162 – 53850475
F: +62 (21) 53650159
E: hendrasiry@gmail.com
Blog: https://hendrasiry.wordpress.com/

Dimuat di Suara Bumi Th. VI/Edisi 4, Juli – Agustus 2010. Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera. Laporan Utama hal 8 -10.

Pendahuluan

Paruh waktu perjalanan tahun 2010 sebagai Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional (International Year of Biodiversity) mempunyai makna penting bagi keanekaragaman hayati pesisir dan laut di Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan tingkat keanekeragaman hayati pesisir dan laut yang tinggi, pelestarian keanekaragaman hayati merupakan hal yang mendasar serta mendesak untuk dilaksanakan. Laju kerusakan keanekaragaman hayati pesisir dan laut serta kepunahan beberapa spesies langka seakan berpacu dengan waktu. Dominansi laju tersebut terkadang bahkan seakan menenggelamkan upaya penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman hayati laut dan pesisir di Indonesia.  Sebagai negara yang ikut berkomitmen dalam the 2005 World Review Summit.untuk mengurangi laju kepunahan keanekaragaman hayati secara substansial pada tahun 2010, Indonesia dituntut untuk mengejewantahkannya dalam penurunan laju kerusakan, khususnya untuk keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang terus menerus menerima dampak kerusakan baik yang bersumber dari dalam ekosistem itu sendiri maupun dari  ekosistem lainnya.

Pesan kunci peringatan Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional yang berbunyi Biodiversity is life, Biodiversity is our life (Keanekaragaman hayati adalah kehidupan, Keanekaragaman hayati adalah kehidupan kita) juga menegaskan pentingnya kepedulian dan upaya bersama untuk menekan laju kerusakan keanekaragaman hayati, khususnya yang berada di laut dan pesisir. Nilai kegunaan dan manfaat keanekaragaman hayati pesisir dan laut terlalu besar ongkos ekologinya jika terus dibiarkan berada dalam kebrutalan pengrusakan dan pemusnahan.

Keanekaragaman hayati pesisir dan laut adalah seluruh keanekaan bentuk kehidupan di pesisir dan laut, beserta interaksi di antara bentuk kehidupan tersebut dan antara bentuk kehidupan tersebut dengan lingkungannya. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut merujuk pada keberagaman bentuk-bentuk kehidupan di pesisir dan laut: tanaman yang berbeda-beda, hewan dan mikroorganisme, gen-gen yang terkandung di dalamnya, dan ekosistem yang mereka bentuk.  Kekayaan hidup ini adalah hasil dari sejarah ratusan juta tahun berevolusi yang jika hilang akan susah untuk pulih bahkan bisa hilang untuk selamanya

Manfaat Keanekaragaman Hayati Pesisir dan Laut

Jasa lingkungan, nilai ekonomi dan kegunaan yang diberikan oleh keanekaragaman hayati pesisir dan laut telah menopang lebih dari 60 persen penduduk Indonesia yang bermukim di wilayah pesisir baik secara langsung maupun tidak langsung. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut telah menjadi sumber penghidupan dan pekerjaan bagi jutaan penduduk Indonesia. Banyak studi yang telah dilakukan yang mengkonfirmasi hal ini. Beberapa hasil kajian yang memperkirakan manfaat keanekaragaman dan ekosistem pesisir dan laut adalah sebagai berikut:

  1. Nilai kegunaan dan non kegunaan hutan mangrove di Indonesia US$ 2,3 miliar per tahun (GEF/UNDP/IMO 1999)
  2. Nilai ekonomi terumbu karang Indonesia diperkirakan sekitar US$ 567 juta (GEF/UNDP/IMO 1999)
  3. Nilai padang lamun sebesar US$ 3.858,91/ha/tahun (Bapedal dan PKSPL-IPB 1999)
  4. Nilai ekologi dan ekonomi sumberdaya rumput laut di Indonesia sekitar US$ 16 juta (GEF/UNDP/IMO 1999)
  5. Nilai manfaat ekonomi potensi sumberdaya ikan laut di Indonesia sebesar US$ 15,1 miliar (Dahuri 2002)

Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim

Keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir dan laut di samping memberikan manfaaat dari sumberdaya dan jasa lingkungannya terhadap penghidupan masyarakat pesisir, juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim serta penyerapan karbon yang merupakan kontributor perubahan iklim. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya berperan dalam menjaga keseimbangan penyerapan karbon. Kemampuan penyeimbang ini mulai terganggu dengan semakin banyaknya gas rumah kaca (GRK) hasil kegiatan manusia (anthropogenic) yang pada akhirnya diserap oleh laut dan ekosistemnya. Tanpa ada upaya pengurangan emisi GRK, dipastikan dalam beberapa dekade mendatang ekosistem pesisir dan laut berkurang secara signifikan. Hal ini berarti akan memberikan dampak ikutan terhadap masyarakat pesisir serta biota dan ekosistem laut dan pesisir lainnya.Berpijak pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir menjaga keseimbangan penyerapan karbon serta potensi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP) bekerjasama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Pendidikan dan Pengetahuan (UNESCO) memperkenalkan konsep Karbon Biru (Blue Carbon) dalam Laporan Blue Carbon – The Role of Healthy Oceans in Binding Carbon[2]. Laporan ini telah diluncurkan pada 14 Oktober 2009  pada Diversitas Conference, Cape Town Conference Centre, South Africa. Laporan ini menggambarkan alur emisi karbon dan estimasi kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menyerap karbon dan gas rumah kaca. Hal ini juga sejalan dengan amanat Manado Ocean Declaration (MOD) yang dideklarasikan tahun 2009 serta sebagai upaya mengendalikan dampak perubahan iklim

Karbon Biru (Blue Carbon) adalah sebuah konsep yang membuktikan peran keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya yang didominasi oleh vegetasi laut seperti hutan mangrove, padang lamun, rawa payau serta rawa masin (salt marshes) dalam mendeposisi karbon. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya diyakini mampu menjadi garda penyeimbang bersama hutan (Green Carbon) untuk mengurangi laju emisi melalui penyerapan karbon. Konsep ini telah disetujui bersama oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr. Fadel Muhammad dan Direktur Eksekutif Badan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP), Dr. Achim Steiner, pada konferensi pers bersamanya, Kamis, 25 Februari 2010 dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Sesi Khusus Kesebelas Dewan Pengatur UNEP/Forum Menteri Lingkungan Hidup sedunia (the 11th Special Session Governing Council UNEP/Global Ministerial Environment Forum – 11th SSGC UNEP/GMEF) di Bali.

Kajian awal yang dilakukan para peneliti di Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengidentifikasikan potensi laut Indonesia yang memiliki kemampuan menyerap karbon sebesar 0.3 giga ton karbon per tahun. Riset ini dilakukan dengan memanfaatkan data satelit kandungan fitoplankton (klorofil dan suhu air laut) di laut Indonesia untuk mengestimasi kandungan karbon yang terserap. Riset ini tentunya masih harus diverifikasi melalui kajian lapangan (in-situ) serta memperhitungkan komponen lainnya seperti interaksi atmosfir dan laut (solubility pump). Langkah ini hendaknya menjadi pemicu dan pemacu untuk melakukan riset lanjutan tentang peran penting laut sebagai pengendali perubahan iklim. Satu hal yang harus diacu adalah Indonesia dengan kenanekaragaman hayati dan luasan ekosistem pesisir dan laut yang begitu besar, berpotensi memberikan kontribusi dalam menjaga dinamisator laut dalam perubahan iklim. Untuk itu menjaga kelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya berarti menjaga kelestarian dan kemampuan ekosistem laut dan pesisir sebagai dinamisator iklim global.

Langkah ke depan

Upaya penurunan laju kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati pesisir dan laut merupakan suatu keharusan dan langkah segera. Setiap kita dapat berbuat dan berkontribusi menekan laju tersebut, karena masa depan bumi dan umat manusia sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola laut secara arif dan lestari. Waktu berjalan cepat dan kita dihadapkan pada pilihan yang tidak dapat ditawar lagi. Kemauan dan kemampuan untuk menjaga keseimbangan yang selama ini diperankan oleh laut dalam mengendalikan iklim harus tetap digaungkan dan diwujudkan dalam langkah nyata agar keanekaragaman hayati laut dan pesisir beserta ekosistemnya tetap berfungsi dan mampu menjaga pendulum keseimbangan tidak cenderung pada dampak yang merugikan. Manado Ocean Declaration (MOD) sebagai luaran World Ocean Conference (WOC) 2009 telah dengan tegas mengamanatkan hal ini. Kepeloporan dan kepemimpinan Indonesia dalam terus menyuarakan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati pesisir dan laut merupakan langkah yang harus didukung penuh oleh semua pemangku kepentingan. Dunia internasional telah mengakuinya.

Pada acara pembukaan the 11th SSGC UNEP/GMEF Rabu, 24 Februari 2010, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono telah menerima penghargaan “UNEP Award for leadership in promoting Oceans and Marine Conservation Management” atas nama bangsa Indonesia untuk kepemimpinan dalam inisiatif kelautan dan pesisir yang diserahkan langsung oleh Dr. Achim Steiner, Executive Director UNEP. Pemberian penghargaan dari UNEP ini merupakan pengakuan PBB dan komunitas internasional terhadap kepemimpinan Indonesia untuk mengangkat isu konservasi kelautan. Indonesia dianggap telah berhasil dalam mengangkat tidak saja usaha nasional tetapi regional dan internasional dengan inisiatif seperti Coral Triangle Initiative (CTI) dan WOC 2009 yang menghasilkan MOD. Penghargaan UNEP ini merupakan pemberian yang sangat terhormat atas usaha nyata untuk meningkatkan kesadaran berbagai pihak untuk melindungi dan mengkonservasi keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya yang mempengaruhi jutaan manusia baik saat ini maupun mendatang.

Pengakuan dunia internasional ini jangan sampai membuat kita berpuas diri dan berpangku tangan, namun pengakuan tersebut harus tetap menjadi pemicu dan pemacu untuk berbuat lebih arif dan bijak bagi keberlanjutan pemanfaatan dan kelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya. Petuah bijak “kalau bukan kita, siapa lagi; kalau bukan sekarang, kapan lagi” hendaknya menjadi renungan kita bersama untuk menekan laju kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati pesisir dan laut beserta ekosistemnya. Ayo berbuat.


[1] Hendra Yusran Siry adalah Kepala Bidang Pelayanan Teknis pada Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hendra memperoleh gelar PhD dari The Australian National University, Master dari the Asian Institute of Technology, Thailand serta Sarjana Perikanan dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Riau.

[2] Laporan ini membantu pengambil keputusan untuk mengarustamakan dimensi kelautan dalam inisiatif perubahan iklim global. Laporan ini dapat diunduh di tautan http://www.grida.no/publications/rr/blue-carbon/.


Responses

  1. saya sgt tertarik dg ulasan anda menegenai biodiversity laut indonesia, kalau ada waktu saya ingin ngobrol lebih lanjut dg pak hendra, warmest regard, tony nugroho.

  2. Terimakasih atas dimuatnya tulisan ini, saya sangat terinspirasi dan terdorong untuk melanjutkan penelitian (S3) yang bertemakan blue carbon. Adakah buku-buku atau artikel bapak yang lain ttg masalah ini? tq. salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: