Posted by: Hendra Siry | 29 August, 2010

Takashi: Proyek Jatropha Atasi Pemanasan Global

Konselor Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Takashi Yoshizawa mengatakan proyek pengembangan jarak pagar (jatropha curcas) di Kabupaten Sikka, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bermanfaat untuk mengatasi pemanasan global.

“Kegiatan ini berkontribusi ganda, selain mendukung penghijauan seperti penanaman jarak pagar seluas 200 ha di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Sikka juga untuk mitigasi pemanasan global, dan memperbaiki masalah pasokan energi,” kata Takashi Yoshizawa, di Maumere, Sikka, Kamis. Dia mengemukakan hal itu pada peresmian Jatropha Center sebagai pusat budidaya jarak pagar (Jatropha curcas), di Kampung Wairita, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.

Peresmian dan pemberkatan Jatropha Center yang terletak 12 kilometer sebelah timur dari kota Maumere itu dilakukan oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, dan Vikaris Jenderal Keuskupan Maumare, Pater Conterius SVD. Penyelenggaraan proyek itu atas kerja sama Yayasan Dian Desa dengan Apex (lembaga swadaya masyarakat Jepang) dengan dukungan dana bantuan dari kementerian luar negeri Jepang – yang disalurkan lewat Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Takashi Yoshizawa mengatakan Jatropha Center telah memproduksi 500.000 bibit jarak yang ditanam di lahan kritis seluas 200 ha di Reroroja. Dia mengatakan Pemerintah Jepang akan terus memberikan bantuan hingga proyek ini berhasil dan memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Kabupaten Sikka, NTT. “Proyek ini berlangsung tiga tahun tetapi Pemerintah Jepang tetap membantu,” katanya.

Ketua Yayasan Dian Desa NTT, Petrus S Swarnam menekankan pentingnya pemanfaatan biji jarak sebagai salah satu bahan baku energi terbarukan – mengingat ketersediaan cadangan enegri fosil di dunia tidak abadi, bahkan ketersediaannya sudah sangat berkurang. “Banyak analisa dari sejumlah pihak, yang mengatakan di Indonesia ketersediaan minyak bumi hanya cukup untuk masyarakat Indonesia sampai 19 tahun ke depan,” katanya. “Karena itu pengolahan biji jarak harus secara serius dilakukan. Namun pada prakteknya di lapangan, sejauh ini setelah kami melakukan kunjungan di banyak provinsi, yang dilakukan umumnya budidaya jarak untuk pembibitan, penanaman, dan pemberian bibit ke masyarakat,” kata Petrus.

Menurut dia, belum ada daerah lain yang berhasil melakukan pengembangan jarak pagar dari pembibitan, penanaman, pemrosesan (pengolahan), hingga pemasaran secara konsisten dan berkesinambungan. “Kami bersama Apex walaupun dengan banyak tantangan memberanikan diri mengambil risiko lewat program ini. Mulai dari pembibitan hingga membeli biji jarak dari masyarakat, bahkan sampai pemasaran minyak jarak,” lanjutnya.

Hal itu berhasil diuji coba bulan lalu (Juli) pada generator penghasil listrik PLN Magepanda, selama satu minggu listrik dihasilkan secara nonstop dengan menggunakan bahan bakar yang diproses di sini (Jatropha Center), katanya.

Sementara itu Gubernur NTT Frans Lebu Raya menyatakan, kegiatan Jatropha Center telah menghasilkan sesuatu yang tepat guna tak hanya bagi NTT, melainkan juga untuk negeri ini. “Dulu biji jarak di sini tak ada harganya, paling digunakan untuk bahan penerangan dengan pelita. Dulu juga harganya sekitar Rp 500 per kilogram. Tapi sekarang per ember pihak Jatropha Center mau membeli biji jarak masyarakat Rp 2.500 per ember,” kata Frans.

Sumber : Antara, 26 Agustus 2010
Maumere


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: