Posted by: Hendra Siry | 20 August, 2010

Hadapi Perubahan Iklim Pemda Harus Proaktif. Kajian Resiko dan Adaptasi Perubahan Iklim di P Lombok

Oleh : Paulus Londo
Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup, 19 Agustus 2010

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta menghimbau pemerintah daerah agar proaktif menyiapkan langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. “Dampak perubahan iklim kini semakin nyata. Karena itu setiap daerah agar melakukan kajian  resiko dan adaptasi perubahan iklim di daerah masing-masing,” kata Gusti M Hatta seusai meluncurkan “Hasil Kajian Resiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat,” 10 Agustus di Jakarta. Kajian tersebut dilakukanoleh Kementerian Lingkungan Hidup ini didukung oleh The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) Indonesia.

Ditegaskannya, setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda-beda. Laporan hasil kajian resiko dan adaptasi perubahan iklim di Lombok Nusa Tenggara Barat  (NTB), tidak mewakili kondisi Indonesia secara keseluruhan. Karena itu setiap pemerintah daerah mesti proaktif, sebab dampak perubahan iklim semakin terasa. Indikasi dari hal ini antara lain terjadi pergeseran musim yang dapat mengganggu ketersediaan air dan musim tanam  serta waktu panen, mewabahnya jenis penyakit tertentu, terjadi berbagai bencana dan sebagainya.

“Indonesia, dengan jumlah penduduk yang tinggi dan secara signifikan mata pencahariannya masih tergantung pada sektor pertanian  dan perikanan serta letaknya  di kepulauan, maka Indonesia  termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim,” kata Gusti M Hatta. Bahkan diduga,  kegagalan panen, penyakit-penyakit terkait iklim yang tidak terkendali, kerusakan infrastruktur yang diakibatkan oleh iklim yang ekstrim merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang nyata terjadi.

Sayangnya,  isu-isu ini belum juga ditangani dengan maksimal oleh para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kajian tentang perubahan iklim ini baru pertama kali dilakukan, karena itu  diharapkan bisa menjadi panduan bagi daerah lain. Pelakunya adalah satu tim ahli dipimpin oleh Djoko Santoso Abi Suroso, Ph.D. dengan anggota terdiri dari Dr. Tri Wahyu Hadi (Ahli Sains Atmosfer), Dr. Ibnu Sofyan (Ahli Klimatolog Laut), Dr. Hamzah Latief (Ahli Kelautan), Dr. Osman Abdurrahman (Ahli Sumber Daya Air), Dr. Halil (Ahli Pertanian) dan dibantu dua Asisten Teknis yakni Hendra Julianto dan Edi Riawan.

Pemda Harus Proaktif

Kajian tentang resiko dan adaptasi perubahan iklim ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Terpilihnya Pulau Lombok menjadi lokasi penelitian karena pemerintah daerah setempat proaktif melakukan hal itu.

“Sejak awal pemerintah daerah setempat memang cukup proaktif dalam kajian dampak perubahan iklim. Kita berharap daerah-daerah lain di lingkungan PPLH Regional Bali Nusa Tenggara dapat mengikuti apa yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah di Pulau Lombok, “ kata Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Bali Nusa Tenggara, Sudirman

Menurut Deputi III Menteri Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnellyarti Hilman, Pulau Lombok jadi obyek kajian karena sebelumnya (kajian pada 2008-2009) diketahui pulau ini menunjukkan, kerentanan bencana dan risiko bencana di lima kabupaten/kota yang semuanya di Pulau Lombok ternyata berlainan. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil analisis dampak perubahan iklim  terhadap sumber daya air, sektor pertanian, dan pesisir.

Karena itu, lanjut Masnellyarti Hilman, pemerintah daerah mesti melakukan hal sama agar adaptasi yang dilakukan sesuai kebutuhan daerah masing-masing.  Lombok, pulau seluas 4.700 kilometer persegi dan dihuni oleh sekitar 4 juta jiwa ini memang unik.  kondisinya tidak stabil dan  kerap mengalami cuaca ekstrem, dari kekeringan hingga banjir. Dari kajian ini diketahui bahwa dampak perubahan iklim di setiap daerah tidak sama. Karena itu pola adaptasi perubahan iklim yang dibutuhkan setiap daerah juga tidak sama.

“Adanya perbedaan itu tentu penting bagi pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan di daerah masing-masing,” kata Masnelyarti Hilman. Apalagi, saat ini dampak perubahan iklim telah mengganggu aktivitas ekonomi warga Lombok. “Dulu pemerintah daerah menyatakan semua masyarakat di kawasan pesisir rentan terhadap perubahan iklim. Ternyata tingkatan dampak kenaikan permukaan laut di sejumlah wilayah di Pulau Lombok tidak sama,” kata Masnellyarti.

Dalam kajian, terlihat telah terjadi  kenaikan permukaan air laut dan pergeseran musim, serta perubahan cuaca. Pulau-pulau kecil tentu jadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut. “Sektor perikanan, sumber nafkah yang vital bagi masyarakat, diperkirakan bakal semakin sulit. Ini disebabkan oleh perubahan gelombang dan pergeseran plankton ke arah timur. Akibatnya, para nelayan mesti semakin jauh melaut. Dengan hasil kajian ini, mereka akan diberi arahan tentang bagaimana beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini dan akan datang,” kata  Masnellyarti Hilman.

Bagi petani, lanjut Masnellyarti Hilman, kajian ini juga berguna karena mereka akan dapat membaca musim. “Awal musim hujan telah bergeser dari bulan November menjadi Januari. Itu membuat kalender tanam petani harus diubah,” kata Masnellyarti Hilman. Kajian berikutnya direncanakan akan  dilakukan di Sumatera Selatan, Pulau Tarakan dan Jawa, dan diintegrasikan dengan peraturan daerah masing-masing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: