Posted by: Hendra Siry | 19 August, 2010

Peningkatan Suhu Akibatkan Pemutihan dan Matinya Terumbu Karang di Indonesia

Oleh : Ani Purwati
Sumber : Berita Bumi, 18 Agustus 2010

Hasil studi lapang Wildlife Conservation Society (WCS) 16 Agustus 2010 menunjukkan bahwa peningkatan suhu permukaan di perairan Indonesia secara dramatis telah mengakibatkan peristiwa pemutihan (bleaching) besar-besaran dan telah menghancurkan populasi karang. Ahli biologi laut WCS’s Indonesia Program “Rapid Response Unit” dikirim untuk menyelidiki pemutihan karang yang dilaporkan pada bulan Mei di Provinsi Aceh di ujung utara pulau Sumatra. Survei awal yang dilakukan oleh tim mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen karang yang memutih.

“Bleaching” – sebuah pemutihan karang yang terjadi ketika alga yang hidup dalam jaringan karang keluar – merupakan indikasi tekanan yang disebabkan oleh pemicu lingkungan, seperti fluktuasi suhu permukaan laut. Tergantung pada banyak faktor, karang yang memutih dapat pulih dari waktu ke waktu atau mati. Monitoring berikutnya yang dilakukan oleh ahli ekologi kelautan dari WCS, James Cook University – JCU (Australia), dan Universitas Syiah Kuala (Indonesia) diselesaikan pada awal bulan Agustus dan mengungkapkan salah satu peristiwa yang paling cepat dan beberapa kematian karang yang parah. Para ilmuwan menemukan bahwa 80 persen dari beberapa spesies telah mati sejak kajian awal dan lebih banyak koloni diperkirakan akan mati dalam beberapa bulan ke depan.

Peristiwa ini merupakan hasil dari peningkatan suhu permukaan laut di Laut Andaman – daerah yang meliputi pantai Myanmar, Thailand, Andaman dan Nicobar Island, serta Indonesia barat laut. Menurut situs pusat terumbu karang National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu di daerah mencapai puncaknya pada akhir Mei 2010, saat suhu mencapai 34 oC, 4 oC lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang untuk daerah tersebut. “Ini adalah perkembangan yang mengecewakan terutama mengingat kenyataan bahwa karang yang sama terbukti tahan terhadap gangguan lain untuk ekosistem ini, termasuk tsunami di Samudera Hindia tahun 2004,” kata Dr Stuart Campbell, Direktur Program Kelautan WCS Indonesia.

WCS dan JCU telah bekerja di wilayah ini sejak Maret 2005. Survei yang dilakukan saat tsunami di Samudra Hindia pada tahun 2004 mengungkapkan bahwa banyak terumbu karang Aceh tidak akan terpengaruh oleh gangguan besar. Memang, terumbu karang rusak parah oleh penggunaan lahan yang buruk dan penangkapan ikan yang merusak sebelum dampak bencana tsunami dapat pulih secara dramatis dalam beberapa tahun karena perbaikan manajemen. Pemerintah dan masyarakat yang mengelola di wilayah tersebut telah sangat berhasil mempertahankan biomasa ikan disamping akses ke terumbu karang secara terus menerus. Namun pemutihan dan kematian karang pada tahun 2010 telah menghambat pemulihan ini dan akan berdampak besar pada perikanan terumbu karang.

Perhatian khusus adalah skala anomali suhu permukaan laut di situs NOAA yang menunjukkan telah mempengaruhi seluruh Laut Andaman dan sekitarnya. Peristiwa pemutihan massal pada tahun 2010 kini telah tercatat di Sri Lanka, Thailand, Malaysia dan banyak daerah di Indonesia. “Jika tingkat kematian serupa terlihat di bagian lain di Laut Andaman, ini akan menjadi peristiwa pemutihan terburuk yang pernah tercatat di kawasan itu,” kata Dr Andrew Baird dari ARC Centre of Excellence untuk studi terumbu karang di JCU. “Perusakan terumbu karang hulu berarti pemulihan mungkin memakan waktu lebih lama daripada sebelumnya.”

“Ini adalah sebuah tragedi tidak hanya untuk beberapa terumbu yang paling tinggi keanekaragaman hayatinya di dunia karang, tetapi juga untuk masyarakat di daerah ini, banyak dari mereka yang sangat miskin dan tergantung pada terumbu ini sebagai sumber makanan dan mata pencaharian mereka,” kata Dr Caleb McClennen, WCS Marine Program Director. “Manajemen segera dan intensif akan diperlukan untuk membantu pemulihan dan adaptasi terumbu karang, perikanan dan seluruh ekosistem. Namun, terumbu karang tidak dapat dilindungi dari temperatur pemanasan laut akibat perubahan iklim dengan tindakan lokal saja. Ini perlu diingatkan kembali bahwa upaya internasional untuk menghentikan penyebab dan dampak perubahan iklim harus dilakukan agar ekosistem yang sensitif dan masyarakat  rentan di seluruh dunia yang bergantung pada terumbu karang bisa beradaptasi dan bertahan.”
Sumber: http://www.wcs.org/press/press-releases/coral-bleaching-indonesia.aspx


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: