Posted by: Hendra Siry | 16 May, 2010

KLH Tidak Berwenang Usulkan Revisi

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta menyatakan, kementerian yang dipimpinnya tidak berwenang mengusulkan revisi peta daerah terdampak akibat semburan lumpur panas di sekitar sumur pengeboran PT Lapindo Brantas. Hal itu disampaikannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Selasa (11/5).

”Kami tidak berwenang. Hal itu bukan tugas pokok dan fungsi kami,” kata Gusti. Gusti tidak memerinci instansi apa yang berwenang mengusulkan revisi peta terdampak semburan lumpur itu. Dalam konteks sumber air, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berwenang untuk menjaga kualitas air.

Sebelumnya, anggota Komisi VII dari Partai Keadilan Sejahtera, Sigit Sosiantomo, mendesak KLH berinisiatif mengusulkan revisi peta area terdampak yang dibuat tiga tahun lalu karena sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang.

Risiko lingkungan

Secara terpisah, pengajar di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mendesak pemerintah mengkaji risiko lingkungan, termasuk risiko ekologis dan risiko kesehatan dari kasus semburan lumpur tersebut. Menurut dia, berdasarkan kajian tahun 2007, lumpur panas tersebut mengandung logam berat, seperti kadmium (Cd), kromium (Cr), timbal (Pb), serta bakteri patogen Coliform, Salmonella, dan Stapylococcus.

”Penelitian itu tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. Seharusnya, pemerintah membuat kajian risiko lingkungan, baik dari aspek risiko ekologis maupun risiko dampak kesehatannya. Harus diteliti dampak logam berat ketika terbawa ke perairan umum, baik itu air permukaan ataupun air tanah. Lalu apa langkah mitigasinya,” kata Andreas.

Pengajar di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, Alan F Koropitan, menyatakan kajian risiko lingkungan itu harus mencakup wilayah Porong, pesisir timur Sidoarjo dan Surabaya, hingga Selat Madura. ”Pada 2007, saya membuat pemodelan numerik dan analisis foto satelit terkait pergerakan arus. Ternyata, terjadi sedimentasi lumpur Lapindo di muara Sungai Porong, seluruh pesisir timur Sidoarjo dan Surabaya, hingga sedimentasi di Selat Madura,” kata Koropitan.

Ia mengingatkan, logam berat yang bersifat racun itu tidak akan tertransformasi dan justru terakumulasi mengingat lumpur itu terus dialirkan ke laut. ”Karena logam berat itu terakumulasi berarti konsentrasinya cenderung semakin meningkat,” ujarnya.

Koropitan mendesak pemerintah membuat kajian ekosistem dan kesehatan atas dampak konsentrasi logam berat terhadap sumber daya hayati dan nonhayati di daerah sedimentasi lumpur tersebut. (ROW)

Sumber: Kompas, 12 Mei 2010
Jakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: