Posted by: Hendra Siry | 10 May, 2010

Negara Berkembang Perlu Berperan Besar soal Iklim

Negara-negara berkembang harus mengambil peran lebih besar dalam negosiasi global tentang perubahan iklim, terutama terkait pembicaraan mengenai perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon dalam jumlah besar.

Hal ini ditegaskan Presiden Bolivia Juan Evo Morales Ayma dalam konferensi pers di Kantor Pusat PBB, Jumat (7/5), seusai menyajikan Deklarasi Cochabamba—sebagai hasil konferensi alternatif yang diikuti 35.000 orang, termasuk masyarakat adat, aktivis lingkungan, dan para pemimpin sosial di Bolivia, bulan lalu—di hadapan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.

Morales secara keras menyebutkan bahwa hasil Copenhagen Accord pada Konferensi Perubahan Iklim PBB Pertemuan Para Pihak Ke-15 di Kopenhagen, Denmark, Desember lalu, amat tidak memadai. Dia menyebutnya ”kolonisasi atmosfer” karena negara-negara kaya menggunakan lebih banyak bahan bakar fosil sehingga mengakibatkan pemanasan global.

Apa yang dikatakan Morales sejalan dengan posisi yang ditegaskan China dan India selama ini. Kedua negara dengan populasi lebih dari satu miliar itu ditekan negara-negara maju agar juga mengurangi emisi karbonnya dalam jumlah besar (deep cut). Kedua negara tersebut menolak tekanan itu.

Morales menyebutkan, AS selama ini telah memakai terlalu banyak ”ruang karbon” dengan mengemisikan sekitar seperlima dari jumlah emisi karbon global. China mengemisikan lebih banyak dari AS, tetapi lebih kecil secara per kapita (emisi per orang). Morales kembali mengingatkan, tanpa ada kesepakatan yang mengikat, Bumi akan kiamat akibat terlalu panas.

Awal pekan lalu, sekitar 40 negara bertekad untuk bertindak secara sendiri-sendiri menghadapi pemanasan global. Pertemuan di dekat kota Bonn, Jerman, itu tidak tampak mengarah pada kesepakatan global yang mengikat.

”Ada dua pilihan untuk maju, menyelamatkan kapitalisme atau menyelamatkan Bumi,” ujar Morales. ”Jika hasil Cancun nantinya sama dengan hasil Kopenhagen, PBB akan kehilangan otoritasnya di hadapan masyarakat dunia,” lanjutnya.

Konferensi perubahan iklim yang berlangsung di Bolivia itu merupakan tandingan konferensi di Kopenhagen pada akhir tahun lalu yang melahirkan kesepakatan: negara maju akan mengucurkan dana 30 miliar dollar AS dalam tiga tahun, mulai tahun 2020, untuk membantu negara- negara berkembang menghadapi dampak perubahan iklim.

Negara AS dan Eropa serta negara kaya lain juga akan menggalang dana 100 miliar dollar AS per tahun mulai tahun 2020 untuk adaptasi dan menahan laju pemanasan global. Namun, tak jelas bagaimana peran tiap negara.

Deklarasi Cochabamba meminta bantuan 300 miliar dollar AS per tahun untuk menghadapi pemanasan global serta penurunan emisi 50 persen pada tahun 2020—dibandingkan dengan emisi tahun 1990—dari negara maju dan mereka yang melanggar akan dihadapkan pada pengadilan iklim global. (AP/ISW)

Sumber: Kompas, 10 Mei 2010
PBB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: