Posted by: Hendra Siry | 12 March, 2010

Dari “Outlook Perikanan” : Negara Besar dengan Obsesi Besar

Majalah Trobos edisi Februari 2010

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah komando Fadel Muhammad berobsesi menjadi penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada 2015. Target yang dipatok, peningkatan produksi sebesar 353% di 2015. Ini kembali diutarakan dengan penuh keyakinan oleh Fadel saat bertindak sebagai pembicara kunci “Outlook Perikanan”, gelaran tahunan yang diselenggarakan TROBOS bekerjasama dengan GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia). Kali ini mengambil tema “Industrialisasi Perikanan Menuju Ketahanan Pangan Nasional”

“Menjadi yang terbesar di dunia adalah sebuah keniscayaan!” tandas Fadel. Menurut mantan gubernur yang sukses membawa Gorontalo sebagai penghasil jagung nasional ini, tidak ada yang tidak mungkin kalau semua sumber daya digerakkan semaksimal mungkin menuju ke arah tersebut. Maka obsesi itu menjadi visi KKP dalam 5 tahun ini, dengan fokus menggenjot perikanan budidaya. Modalnya, ujarnya dengan urut, kinerja perikanan nasional yang terus menunjukkan tren positif, posisi Indonesia di pasar global yang sudah masuk jajaran papan atas, serta pasar yang masih terbuka baik ekspor maupun domestik. Sementara misinya adalah menyejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan. Karena peningkatan produksi yang tidak disertai peningkatan “nilai tukar” pelaku (pembudidaya, nelayan) maka prestasi tersebut tak akan bernilai.

Membuat grand strategy, menetapkan langkah serta konvergensi dengan kebijakan nasional adalah yang disebut Fadel berikutnya setelah memiliki visi dan misi. Dan soal ini, dengan mantap ia katakan telah memiliki empat rencana strategis 2010-2014 yang disebutnya dengan “The Blue Revolution Policies”. Yaitu, 1) memperkuat kelembagaan dan SDM (Sumber Daya Manusia) secara terintegrasi, 2) mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan, 3) meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan, dan 4) memperluas akses pasar domestik dan internasional.
Mencermati pertumbuhan akuakultur China pun menjadi salah satu perhatian Fadel. Karena pada titik tertentu China mampu secara revolusioner membuat lompatan produksi perikanan budidaya sehingga menjadi produsen terbesar di dunia. “China hanya perlu waktu 5 tahun untuk menjadi yang nomor satu. Itu terjadi rentang 1990 sampai 1995,” sebut Fadel. Kala itu, lanjutnya, China melakukan penyempurnaan teknik budidaya perikanan, mendorong ilmu pengetahuan perikanan, dan mendiversifikasi budidaya perikanan seperti polikultur, pertanian terpadu dan budidaya sistem intensif. Fadel yang berprinsip memimpin departemen tak ubahnya memimpin perusahaan ini, yakin Indonesia bakal mampu menyamai China. ”Syaratnya menguasai world best practice perikanan budidaya dan teknologi,” ucapnya berapi-api.

Beberapa peserta dari hampir 200 orang yang hadir di Hotel Grand Sahid, Jakarta hari itu (14/1) menaruh harapan besar pada Fadel, sebagai menteri yang baru. “Bagus, ada semangat baru, semoga mampu membuka iklim usaha yang baik,” ujar salah satu peserta dari sebuah perusahaan pakan ikan-udang. Terlebih, sebelum acara Fadel menyempatkan berdiskusi mendengarkan masukan dari perwakilan pelaku usaha perikanan. Diharapkan ia mampu mengurai beberapa persoalan yang menghambat usaha. Sebagaimana janji Presiden SBY yang melakukan “debottlenecking” bagi iklim usaha selama masa pemerintahannya kali ini.

Fokus di Budidaya

Target ambisius dari KKP tidak-bisa-tidak menjadikan perikanan budidaya sebagai tulang punggung pencapaian. Menggenjot produksi perikanan budidaya secara terfokus pun menjadi keharusan. Angka rerata peningkatan produksi perikanan budidaya per tahunnya diasumsikan 29 %. Made L Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya yang juga menjadi pembicara menyatakan peningkatan produksi berdasarkan dua hal yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi. Dan strategi yang ditempuh mencakup pemilihan spesies kultivar yang mampu mengikuti kebutuhan pasar, penggunaan induk/benih unggul, penyediaan sarana dan prasarana budidaya yang memadai, pengendalian hama penyakit ikan melalui penerapan Good Aquaculture Practices (GAP). Dan yang menarik, Made menyebut pihaknya tengah menyiapkan paket-paket bantuan produksi seperti paket budidaya patin, lele, dan sebagainya.

Sinergi dengan pemaparan Made, Ketut Sugama, Direktur Perbenihan, Ditjen Perikanan Budidaya pun menyatakan pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan benih berkualitas. ”Sediaan benih adalah kunci sukses usaha budidaya perikanan. Harus unggul dan budidayanya mengikuti CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik),” tuturnya. Benih juga harus memenuhi persyaratan seperti tepat jenis, mutu, jumlah, tempat, ukuran, waktu dan harga.

Paralel dengan peningkatan produksi di hulu, maka penguatan pasar di hilir menjadi kunci keberhasilan. Direktur Usaha dan Investasi, Ditjen P2HP,  Victor PH Nikijuluw yakin Indonesia sebagai negara produsen besar dengan sumberdaya alam melimpah memiliki kesempatan untuk memanfaatkan peluang pasar internasional dan domestik. Dibutuhkan setidaknya 7,5 juta ton ikan basah untuk konsumsi domestik pada 2010. Dan untuk mengembangkan pasar domestik yang diisi dengan produk-produk lokal, akan dikembangkan model ”One Village One Market (OVOM)”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: