Posted by: Hendra Siry | 27 February, 2010

”Blue Carbon”, Atasi GRK Lewat Ekosistem Laut

Denpasar (Bali Post) – Ekosistem laut dan pesisir merupakan elemen penting dalam pengedalian dampak lingkungan, terutama gas rumah kaca (GRK). Untuk itu, Indonesia dan UN Environment Programme (UNEP) mendeklarasikan kerja sama di bidang konservasi laut dan ekosistemnya untuk menekan emisi GRK yang lepas ke atmosfir. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Dr. Fadel Muhammad dan Executive Director UNEP Dr. Achim Steiner usai melakukan pertemuan di sela-sela the 11th Special Session Governing Council UNEP/Global Ministerial Environment Forum (11th SSGC UNEP/GMEF), Kamis (25/2) kemarin.
Dikatakan Fadel, upaya untuk lebih gencar dalam melaksanakan konservasi lautan dan ekosistemnya dipicu studi yang telah dilakukan UNEP. Laporan Blue Carbon-The Role of Healthy Oceans in Binding Carbon tersebut menggambarkan alur emisi karbon dan estimasi kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menyerap karbon dan gas rumah kaca. Pesan penting dalam laporan ini adalah penegasan akan peran penting ekosistem laut dan pesisir dalam menjaga keseimbangan iklim. ”Indonesia sendiri juga telah melakukan riset terhadap temuan ini. Telah ada beberapa studi lagi yang akan dilakukan di lima daerah, di antaranya di Tangerang, Bekasi, dan Pekalongan untuk mencari seberapa besar kemampuan laut kita menyerap karbon emisi,” jelasnya.
Ditambahkannya, isu kelautan kini menjadi salah satu pilar pokok dalam pertemuan GMEF pascapelaksanaan Manado Ocean Declaration (MOD). Penerapan konsep Blue Carbon merupakan tindak lanjut inisiasi Indonesia dalam pengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap laut dan peran laut terhadap perubahan iklim serta pelaksanaan Coral Triangle Inisiative (CTI) beberapa waktu lalu.
Kajian awal yang dilakukan para peneliti di Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengidentifikasikan potensi laut Indonesia yang memiliki kemampuan menyerap karbon sebesar 0.3 giga ton karbon per tahun. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan data satelit kandungan fitoplankton (klorofil dan suhu air laut) di laut Indonesia untuk mengestimasi kandungan karbon yang terserap. Penelitian ini tentunya masih harus diverifikasi melalui kajian lapangan (in-situ) serta memperhitungkan komponen lainnya seperti interaksi atmosfir dan laut (solubility pump).
Lebih lanjut Fadel menegaskan, Indonesia dengan luasan mangrove serta padang lamun yang begitu besar, tentunya akan secara signifikan dapat memberikan kontribusi dalam proses penyerapan karbon. ”Kita harus segera berbuat karena masa depan bumi dan umat manusia sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola laut secara arif dan lestari, seperti melakukan penyelamatan mangrove di pesisir,” kata Fadel.
Sementara itu, Steiner mengutarakan ekosistem laut dan pesisir yang sehat di samping memberikan manfaaat dari sumber daya dan jasa lingkungannya terhadap perikehidupan masyarakat pesisir, juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim serta penyerapan karbon yang merupakan kontributor perubahan iklim. Laut dan eksosistemnya telah berperan dalam menjaga keseimbangan penyerapan karbon. ”Kemampuan penyeimbang ini mulai terganggu dengan makin banyaknya gas rumah kaca (GRK) hasil aktivitas manusia (anthropogenic) yang dibuang ke atmosfir dan akhirnya diserap oleh laut beserta ekosistemnya,” paparnya.
Meningkatnya emisi GRK ini berdasarkan berbagai hasil penelitian telah terbukti memicu dan memacu hilang atau terdegradasinya ekosistem pesisir dan laut. Tanpa ada upaya pengurangan emisi GRK, dipastikan dalam beberapa dekade mendatang dunia akan kehilangan ekosistem pesisir dan laut. ”Hal ini berarti akan memberikan dampak ikutan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, biota serta ekosistem laut dan pesisir,” tegas Achim.
Berpijak pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menjaga keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi GRK, UNEP bekerja sama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Pendidikan dan Pengetahuan PBB (UNESCO) telah memperkenalkan konsep Karbon Biru (Blue Carbon). Konsep ini merupakan hasil kajian akan kemampuan ekosistem laut dan pesisir yang didominasi oleh vegetasi laut seperti hutan mangrove, padang lamun, rawa payau serta rawa masin (salt marshes) dalam mendeposisi emisi karbon. ”Ekosistem pesisir dan laut diyakini mampu menjadi garda penyeimbang bersama hutan untuk mengurangi laju emisi melalui penyerapan karbon,” lanjut Achim. (kmb18)


Responses

  1. Departemen kelautan yg seharusnya memperhatikan ekosistim laut.apa gunanya ada departemen kelautan jika tidak .mengurusi laut.Memang pd zaman sekarang ebanyakan manusia menggunakan rumah kaca dmn tujuan rumah kaca utk menghemat energi listrik dan jk mati lampu tdk terlalu gelap gulita .Tp pihak utk mengatasi rumah kaca ini blm maksimal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: