Posted by: Hendra Siry | 29 January, 2010

Jangan Kagetan

Datangnya El Nino 2009/2010 sudah diramalkan berbagai lembaga meteorologi dunia, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia.

Peneliti perubahan iklim dari IPB, Prof Dr Ir Rizaldi Boer, menekankan pentingnya peningkatan akurasi peramalan iklim untuk menentukan rencana penanaman tanaman pangan dan perkebunan serta pengisian waduk.

Secara terpisah, peneliti iklim dari IPB, Prof Dr Ir Handoko, menekankan antisipasi menghadapi fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina selayaknya dilakukan dalam jangka panjang dan selalu siap dengan ”keadaan terburuk”.

”Antisipasinya tidak selalu kagetan karena menangani kekurangan air dalam jumlah sangat besar perlu energi, biaya, dan waktu tidak sedikit,” kata Handoko.

Handoko mencontohkan, tanaman butuh air 7 mm/hari atau setara 70 m/hari. Bila defisit air itu terjadi dua bulan, diperlukan 60 (hari) x 70 m atau 4.200 m per ha atau 4,2 juta liter/ha. Sedangkan untuk air minum sapi per hari kebutuhannya 50 liter.

Antisipasi jangka pendek di bidang pertanian, menurut Handoko, adalah mengurangi kemungkinan kerugian lebih besar dengan menjadwal ulang saat pemupukan, menyesuaikan pola tanam, serta memilih benih tanaman berusia pendek dan butuh air sedikit. Untuk peternakan, perikanan, dan air minum dengan menampung air hujan seoptimal mungkin serta menghemat air.

Rumah tangga perkotaan pun perlu menghemat air, termasuk penggunaan air tanah. Air hujan sebanyak mungkin ditampung atau diresapkan ke tanah.

Karena musim hujan datang lebih lambat dan mungkin berlangsung lebih pendek, menurut Rizaldi, perhatian harus diberikan untuk tanam padi musim kedua bulan Mei, terutama di daerah endemik kekeringan di sebagian besar Jawa Barat.

Makin kerap

El Nino adalah fenomena alam yang disebabkan perbedaan pemanasan permukaan laut sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara antara wilayah Indonesia/Australia dengan Samudra Pasifik. Fenomena ini dimulai dengan penurunan tekanan di kawasan Samudra Pasifik yang diukur di Tahiti dan meningkatnya tekanan di Darwin, Australia. Perbedaan tekanan itu diikuti melemahnya gerak angin dalam sirkulasi udara barat-timur dari Pasifik ke barat, sedangkan yang ke arah timur menguat sehingga massa udara bergeser ke Samudra Pasifik. Keadaan itu diikuti dengan bergeraknya massa air laut yang lebih panas dari wilayah barat ke wilayah timur Pasifik.

Mengapa fenomena iklim ini terjadi belum diketahui pasti, tetapi menurut Rizaldi data meteorologi memperlihatkan fenomena ini berlangsung 4-7 tahun sekali.

”Setelah tahun 1940-an, frekuensinya cenderung meningkat, menjadi tiap 3-5 tahun dengan intensitas semakin kuat. Banyak pihak mengatakan ini berkaitan dengan pemanasan global walau hasil riset belum cukup untuk membuktikan hal itu,” kata Rizaldi. (NMP)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: