Posted by: Hendra Siry | 22 January, 2010

PENGEMBARA LAUT: Setelah Mereka Hidup di Darat

KOMPAS/KENEDI NURHAN
Kendati Orang Sawang hidup dalam kondisi serba kekurangan, sebagaimana dirasakan Batman (71) dan keluarganya, mereka tetap teguh menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Sejak di perjalanan dari Pangkal Pinang menuju Pelabuhan Sadai di wilayah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Syahrial sudah seperti kehabisan tenaga. Wajahnya pucat. Perjalanan panjang menelusuri jejak peradaban orang-orang suku laut yang tinggal di sejumlah tempat di sekitar Pulau Bangka dan Belitung memang cukup melelahkan.

Setelah tiga hari berkeliling di Pulau Belitung, mendatangi simpul-simpul tempat orang-orang suku laut yang ada di wilayah pulau ini bermastautin, memang muncul rasa ingin tahu untuk melihat kehidupan sehari-hari kerabat mereka yang tinggal di wilayah perairan Pulau Bangka. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong peneliti dari Asosiasi Tradisi Lisan tersebut tetap bertahan hingga sampai ke tujuan akhir: Pulau Lepar!

Nama Pulau Lepar—juga Pulau Pongok yang lebih ke timur, ke arah Belitung—memang sering disebut dalam perbincangan dengan orang-orang suku laut yang ditemui di Belitung. Bukan saja masih memiliki hubungan kekerabatan, persentuhan antarmereka pun terus terjalin, terutama pada setiap siklus pengembaraan laut yang hingga kini masih mereka lakukan.

Terletak di wilayah perairan Bangka Selatan, Pulau Lepar dan Pongok termasuk rute tetap daerah ”pengembaraan” mereka. Apalagi di Pulau Lepar orang-orang suku laut, yang lebih suka menyebut dirinya sebagai Orang Sawang, ini memiliki ”kampung halaman” baru setelah pada awal 1990-an pemerintah memukimkan mereka di pinggiran Desa Kumbung dan Tanjung Labu.

Dan, siang menjelang sore pada pengujung 2009 itu, setelah lima jam diempas gelombang Selat Gaspar dalam perjalanan dari Tanjung Pandan ke Pelabuhan Pangkalan Balam, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Pelabuhan Sadai di Bangka Selatan selama sekitar tiga jam. Di Sadai, perahu motor cepat (speedboat) berkekuatan 25 tenaga kuda sudah menunggu untuk mengantar ke Pulau Lepar.

”Kalau laut tenang, paling hanya satu jam,” kata sang jurumudi yang bisa dikenali dengan panggilan speedboat-man.

Betul saja, kurang dari satu jam—setelah menyusuri sisi selatan Pulau Tinggi yang sudah ”bopeng” akibat penambangan timah ilegal—speedboad merapat di pantai bagian selatan Desa Kumbung. Di belakang semak yang memisah jalan setapak di tepi pantai dengan kawasan permukiman, deretan rumah panggung bertiang rendah—sekitar 1 meter dari permukaan tanah—tertata dalam jarak yang relatif sama, memanjang di kedua sisi ujung jalan desa.

”Seperti permukiman di daerah transmigran,” kata Respi, rekan dari Bangka Pos, mengomentari perkampungan Orang Sawang yang ”dimukimkan” pemerintah di daratan Pulau Lepar tersebut, persisnya di pinggiran sisi selatan Desa Kumbung.

Bangunan rumah mereka mulai reyot. Tak terlihat sentuhan perbaikan sejak dibangunkan pemerintah hampir 20 tahun silam. Sebagian dinding dan lantai kayu mulai lepas. Daun pintu dan jendela tak lagi sepenuhnya utuh. Seng berkarat yang menaungi penghuninya dari panas dan hujan pun sudah banyak yang bolong. Selain beberapa lembar pakaian lusuh dan handuk yang tersampir di dinding, dalam ruang tanpa sekat itu hanya selembar tikar purun berukuran sekitar 2 x 3 meter terhampar di lantai rumah.

Kontras dengan rumah-rumah ”tetangga” mereka sesama warga Desa Kumbung yang umumnya berasal dari etnis Melayu dan Bugis.

Deretan rumah warga Kumbung lainnya terus bertumbuh. Sebagian besar sudah berupa bangunan rumah batu berdinding beton, berlantai marmer, bahkan ada yang dilengkapi halaman berpagar khusus.

Jauh lebih kontras lagi, sebagian besar dari sekitar 15 rumah Orang Sawang yang sudah ”didaratkan” tersebut dalam kondisi tidak berpenghuni. ”Kalau pada bulan-bulan seperti sekarang, mereka pergi ke tempat lain, mencari penghidupan di laut,” kata Mashur, warga Kumbung yang mengaku berasal dari etnis Melayu.

Terikat pada laut

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan dan dari mana asal-usul orang-orang suku laut yang mendiami kawasan pesisir pantai, muara sungai, dan pulau-pulau kecil di wilayah Bangka dan Belitung. Banyak teori yang dimunculkan. Ada yang menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Pulau Mindanao di Filipina, tetapi tidak sedikit yang berkeyakinan bahwa Orang Sawang berasal dari rumpun nenek moyang yang sama dengan suku laut lainnya yang tersebar di berbagai belahan Nusantara.

Merujuk pada pandangan yang disebut terakhir, dari serangkaian hasil penelitian geneologis dan tradisi tutur di kalangan masyarakat suku laut, ada keyakinan bahwa nenek moyang mereka sesungguhnya berasal dari Melaka-Johor. Pascakejatuhan Melaka (1511) ke tangan Portugis dan tercerai-berainya Kesultanan Johor (1699), menyusul kehadiran Belanda dan Inggris, orang-orang suku laut yang jadi tulang punggung kekuatan maritim Melaka-Johor berdiaspora ke timur.

Studi yang dilakukan para sejarawan seperti David E Sopher (1965), Leonard Y Andaya (1975), dan AB Lapian (1986) tampaknya mendukung fenomena diaspora historis orang-orang suku laut tersebut. Bahwa setelah berabad- abad kemudian ada perbedaan di sana-sini di antara mereka, hal itu lebih disebabkan pengaruh lokal, hasil interaksi mereka dengan penduduk setempat.

Adapun Robert Dick-Read (2008) berkeyakinan, keberadaan suku laut di kawasan Selat Melaka—termasuk di sekitar perairan Bangka dan Belitung, yang bisa diidentifikasikan sebagai cikal bakal kehadiran Orang Sawang di kawasan ini—sudah ada sejak masa Sriwijaya pada sekitar abad X. Ketika itu, nenek moyang orang-orang suku laut diperkirakan ikut berperan sebagai bagian dari kekuatan armada laut Sriwijaya dalam upaya menguasai alur pelayaran dan perdagangan di perairan Selat Melaka.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang pasti, pola dan perilaku hidup mereka dari waktu ke waktu relatif tidak berubah. Keterikatan pada laut sangat tinggi. Kebiasaan ”mengembara” di laut, meski kini dalam skala yang makin terbatas, tetap jadi ciri khas Orang Sawang pada umumnya. Walaupun banyak di antara mereka sudah memiliki tempat tinggal tetap di darat, kegiatan pengembaraan di laut tidak pernah benar-benar berakhir.

”Kawasan perairan laut dangkal yang berkarang, terumbu, gosong, ataupun perairan dekat pantai berhutan bakau adalah kawasan sumber daya laut yang penting bagi Orang Sawang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” tutur Salim Yan Albert Hoogstat, pemerhati budaya dan tradisi Belitung yang kerap berhubungan dengan orang-orang suku laut di daerah ini.

Dari kawasan perairan semacam itulah Orang Sawang mengumpulkan berbagai jenis biota laut, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun sebagai mata pencarian untuk dijual. Hasil laut itu biasanya mereka kumpulkan sambil menyelam. Umumnya tanpa alat bantu, kecuali beberapa di antaranya menggunakan semacam kacamata selam yang mereka buat sendiri.

Hanya berbekal sumpit (kantong untuk tempat hasil tangkapan) yang diikatkan di pinggang, berbagai hasil laut seperti teripang, agar-agar, dan lokan mereka ”pungut” dengan tangan telanjang. Adapun untuk menangkap ikan dan sejenisnya digunakan serampang atau tombak yang pada ”mata besi”-nya berkait dan diberi tali.

Alhasil, setiap kali pemerintah mencoba ”mendaratkan” Orang Sawang dengan membangun tempat tinggal untuk mereka, sekalipun tak jauh dari laut, ternyata hampir sepanjang tahun banyak rumah yang dibiarkan kosong. Mereka bisa pergi selama berbulan-bulan mengembara di laut, sembari mengumpulkan hasil tangkapan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Bagi mereka, laut bukan saja urat nadi kehidupan, tetapi juga tempat harapan dan impian dibangun, sekaligus ”ruang” menunjukkan bahwa mereka masih ada.

”Entah apa jadinya Orang Sawang tanpa laut,” kata Batman, salah satu tetua adat Orang Sawang dari Lepar-Pongok yang kini ”bermukim” di wilayah Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Bangka Tengah. (KEN)

Sumber: KOMPAS, Jumat, 22 Januari 2010 | 05:55 WIB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: