Posted by: Hendra Siry | 22 January, 2010

Bukan (Suku) Bangsa Maling

Entah sejak kapan kebiasaan berutang di kalangan orang-orang suku laut di wilayah Kepulauan Bangka Belitung muncul. Jauh sebelum mengenal kata ”bermukim” di darat, ketika mereka masih hidup sebagai pengembara laut sejati, ketika model ”imbal-beli” dengan orang darat masih didominasi sistem barter, kebiasaan berutang belum ada dalam kamus hidup mereka.

Tidak bisa lain, persentuhan dengan orang- orang daratlah yang ikut membentuk kebiasaan ”buruk” tersebut. Setelah sebuah perusahaan swasta Belanda mengeksploitasi timah di Belitung pada awal abad ke-20, dan mulai mempekerjakan orang- orang suku laut, interaksi sosial antara orang-orang suku laut dan orang darat (baca: etnis Melayu dan China) diperkirakan mulai berlangsung lebih intens.

Pada saat bersamaan, Belanda melakukan semacam penataan permukiman, terutama di distrik-distrik baru yang berada tak jauh dari lokasi tambang. Studi yang dilakukan Erwiza Erman (Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung, 2009:15-16) menunjukkan, penataan permukiman itu tidak hanya bagi orang-orang darat, tetapi juga untuk ”kepentingan” orang-orang suku laut.

”Suku laut ini menjadi tulang punggung perusahaan pada tahun-tahun awal eksploitasi timah di Belitung. Peranan mereka sangat penting, khususnya dalam mentransportasikan timah dari daerah pedalaman ke Tanjung Pandan melalui sungai atau laut,” kata Erwiza, peneliti dari Pusat Penelitian Sumber Daya Regional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Meski upaya memukimkan orang-orang suku laut—kerap disebut Sekak atau Sekah oleh Belanda dan etnis lain yang ada di Bangka dan Belitung, sementara mereka sendiri lebih suka dipanggil Orang Sawang—tidak sepenuhnya berhasil, pola hubungan dengan orang darat diperkirakan sudah mulai bergeser. Kebiasaan-kebiasaan baru pun muncul di kalangan Orang Sawang, termasuk berutang.

Sejak itu pula, di sela-sela tradisi mengembara di laut dan pantai sepanjang perairan Bangka dan Belitung; paling jauh ke wilayah sekitar Lampung, Kalimantan Barat, atau ke Kepulauan Riau, tidak jarang terlihat Orang Sawang bekerja sebagai buruh atau kuli di pelabuhan dan galangan kapal. Di era kemerdekaan, setelah perusahaan timah Belanda diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, Orang Sawang dipekerjakan sebagai buruh kasar dengan upah mingguan.

”Mereka dikenal sebagai pekerja ulet, terutama di gudang timah untuk menjahit karung timah,” kata Salim Yan Albert Hoogstad, pemerhati budaya dan tradisi Belitung yang kerap berhubungan dengan orang-orang suku laut di daerah ini.

Buah dari interaksi sosial yang kian intens tersebut ternyata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi mereka mulai mengenal kebiasaan hidup menetap, dan sampai batas tertentu menyerap kebudayaan Melayu-Belitung, tetapi di sisi lain kemampuan beradaptasi dengan budaya baru itu tidak sepenuhnya berhasil.

Kebiasaan berutang adalah contoh kecil ketidakmampuan mereka mentransformasikan pola dan perilaku hidup sebagai orang laut dengan tantangan baru sebagai bagian dari orang darat. Jika sebelumnya sebagai orang laut kebutuhan hidup sehari-hari langsung bisa didapat dari alam, lalu dimakan atau terlebih dahulu ditukar dengan berbagai kebutuhan lain, kini sebagai bagian dari orang darat mereka harus menunggu hasil kerjanya dengan sistem upah mingguan.

Di sinilah persoalan baru itu muncul. Begitu upah diterima, uang langsung dibelanjakan hingga habis. Guna mencukupi kebutuhan hidup hingga terima upah pada minggu berikutnya, berutang di toko dan kedai-kedai tak jauh dari tempat mereka bekerja akhirnya jadi pilihan.

”Kalau masa terima gaji, mereka ramai-ramai beli bir, minum- minum dan makan-makan,” begitulah cara Sobron Aidit (1934- 2007), pengarang eksil asal Belitung—yang sejak huru-hara politik di Tanah Air pada 1965 hingga akhir hayatnya menetap di Paris, Perancis—menggambarkan kebiasaan orang-orang suku laut di daerah kelahirannya itu.

Alhasil, di mata masyarakat etnis lain, muncul stereotip buruk bahwa Orang Sawang identik dengan hidup royal alias boros, serta suka berutang. Sementara bagi Orang Sawang sendiri, apa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari kebiasaan lama sebagai orang laut, yakni ketika rezeki didapat dari ”pemberian” alam yang masih gampang dipetik hasilnya. Kebiasaan berutang hanya dampak ikutannya.

Fenomena sosial

Fenomena sosial-budaya ini, sayangnya, cenderung lebih dilihat dari sisi negatif semata. Pemahaman terhadap keberadaan Orang Sawang hanya sebatas apa yang dianggap buruk dan jelek, sebagaimana tersembunyi di balik pemeo ”seperti Sekaklah kau ini”, untuk menabalkan sifat dan perilaku orang yang tidak hemat atau suka berutang. Seolah tak ada kebaikan pada mereka.

Padahal, tidak sedikit perilaku positif yang bisa diteladani dari orang-orang suku laut ini. Selain dikenal sebagai pekerja keras dan ulet, Orang Sawang adalah tipologi masyarakat cinta damai dan jujur. Dalam hal kejujuran, integritas mereka patut dikedepankan. Tidak pernah ada cerita Orang Sawang lari dari tanggung jawab, termasuk menghindar dari kewajiban membayar utang.

Sikap rendah diri, minder, yang melekat pada Orang Sawang tidak berarti mereka tak pandai bergaul. Di mata Andrea Hirata, penulis asal Belitung yang meroket namanya lewat tetralogi Laskar Pelangi-nya, Orang Sawang memang senang sekali memarjinalkan diri sendiri. Mereka hidup eksklusif dalam komunitasnya sendiri, serta tidak suka usil dengan urusan orang lain.

Dengan segala kekurangan yang mereka miliki, Orang Sawang adalah tipikal masyarakat yang sesungguhnya tahu persis bagaimana menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya. Meski hidup dalam kesederhanaan, bahkan untuk ukuran masyarakat pada umumnya kebanyakan di antara mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan, tidak pernah terdengar ada Orang Sawang yang menipu. Apalagi mencuri!

”Tak pernah saya mendengar berita ada Orang Sawang yang berurusan dengan polisi atau pihak keamanan lain karena berbuat jahat,” kata Idris Said (61). Meski bukan Orang Sawang asli, Idris yang lahir dan besar di tengah lingkungan mereka di kawasan Kampung Laut, Desa Paal Satu, Tanjung Pandan, kini begitu bangga menjadi bagian dari komunitas Orang Sawang.

Dalam dua dekade terakhir, kehidupan Orang Sawang dirasakan kian sulit. Kenyataan ini benar-benar dirasakan oleh Husin, salah satu tetua ada komunitas orang-orang suku laut yang kini bermukim di wilayah Desa Juru Seberang, Tanjung Pandan. Juga Batman dari Lepar-Pongok di Bangka Selatan.

Walaupun banyak di antara Orang Sawang sudah berdiam di darat, menempati rumah-rumah yang dibangunkan pemerintah di permukiman khusus, bagaimanapun, laut tetaplah urat nadi kehidupan mereka. Ketika perairan laut tempat mereka mencari penghidupan kian tercemar oleh berbagai aktivitas, mulai dari dampak penambangan timah hingga rusaknya terumbu karang akibat penggunaan bom ikan oleh nelayan yang dimodali para cukong, kesempatan orang-orang suku laut mengumpulkan berbagai jenis biota laut di perairan dangkal pun semakin susah.

Lebih memprihatinkan lagi, dari pengakuan Idris, Husin, dan Batman, terungkap kenyataan bahwa cukup banyak di kalangan Orang Sawang yang tidak memiliki perahu bermotor. Sebagian di antara mereka akhirnya menjadi kuli angkut di pasar atau pelabuhan, sebagian lainnya menceburkan diri bekerja sebagai buruh di lubang-lubang tambang timah ilegal yang marak sejak 10 tahun terakhir.

Dihadapkan pada kenyataan ini, Orang Sawang tetaplah manusia dengan pola hidup masa lampau yang umumnya masih sebatas berpikir bagaimana hidup hari ini dan kini. Ketika mereka terima uang sebagai upah bekerja atau dari hasil penjualan biota laut yang mereka kumpulkan, kecenderungan untuk segera menghabiskannya masih saja terjadi. Begitu uang habis, mereka pun berutang ke warung atau toko yang menyediakan kebutuhan mereka.

Mengapa tidak pernah terdengar ada Orang Sawang yang menipu, enggan membayar utang, atau mencuri?

”Tidaklah. Itu bukan perbuatan baik,” kata Husin. ”Tetapi, tolonglah bantu kami untuk memperbaiki rumah yang sudah lapuk dan bocor ini. Juga untuk beli perahu,” ujarnya setengah berbisik.

Begitu percakapan itu rampung, di perjalanan pulang seorang rekan langsung berucap, ”Sebabnya jelas: mereka bukan (suku) bangsa maling!” (KEN)

Sumber: KOMPAS, Jumat, 22 Januari 2010 | 05:56 WIB

KENEDI NURHAN

Kejujuran masih menjadi modal utama orang-orang suku laut di Kepulauan Bangka Belitung. Sistem pewarisan nilai-nilai positif tersebut berlangsung wajar kepada anak-anak mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: