Posted by: Hendra Siry | 23 December, 2009

Daya Rusak Muka Laut Diabaikan

JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan paras muka laut akibat pemanasan global, penurunan tanah, serta pengaruh lainnya sebatas satuan milimeter tiap tahun masih kerap diremehkan sehingga daya rusaknya diabaikan pula.

Padahal, dampak kerusakannya meluas, mencapai ketinggian 50 kali-200 kali kenaikan paras muka laut itu. ”Daya rusak akibat kenaikan paras muka laut bukan vertikal, tetapi horizontal. Kita jangan terpukau meski perkiraan kenaikan muka laut di berbagai wilayah Indonesia hanya 3-5 milimeter per tahun,” kata Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang-Surut pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Parluhutan Manurung, Senin (21/12/2009) di Jakarta.

Parluhutan mengatakan, daya rusak kawasan pantai mencapai 50 kali-200 kali kenaikan muka laut mengacu pada teori Brun. Jika diperkirakan kenaikan muka laut 3 milimeter per tahun, risiko daya rusak kawasan pantai hingga pada ketinggian 150 milimeter-600 milimeter (0,15 meter-0,6 meter).

”Kenaikan paras muka laut 3 milimeter per tahun itu sangat kecil. Namun, dalam setahun daya rusaknya bisa sampai kawasan pantai dengan ketinggian 0,6 meter. Risiko ini masih kurang diperhitungkan,” kata Parluhutan.

Daya rusak tersebut, menurut dia, akibat gerusan ombak yang makin tinggi dan menimbulkan abrasi. Sebetulnya kerusakan itu dapat diperhitungkan untuk menetapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi.

Daya rusak itu juga dipengaruhi kondisi pantai. Pantai yang masih dilindungi zona mangrove yang baik berisiko lebih kecil. ”Efek teori Brun inilah yang dikhawatirkan negara-negara kepulauan kecil,” kata Parluhutan.

Pulau tenggelam

Menurut Direktur Pesisir dan Lautan pada Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, erosi air laut merupakan penyebab utama tenggelamnya pulau-pulau kecil yang mengalami kerusakan ekosistem, biasanya akibat aktivitas penambangan pasir. Di Indonesia banyak pulau kecil hilang.

Berdasarkan inventarisasi Departemen Kelautan dan Perikanan pada 2005-2007, menurut Subandono, 24 pulau kecil di Indonesia telah tenggelam.

Rinciannya, masing-masing tiga pulau kecil di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Papua. Disusul lima pulau kecil di kawasan Kepulauan Riau. Di Sumatera Barat terdapat dua pulau kecil tenggelam. Di Sulawesi Selatan satu pulau kecil tenggelam. Di Kepulauan Seribu, yang masuk wilayah DKI Jakarta, tujuh pulau kecil hilang.

Tenggelamnya pulau kecil seperti Pulau Nipah di Kepulauan Riau tak hanya berdampak pada hilangnya ekosistem darat atau perubahan arus laut di sekitarnya, tetapi juga bermakna politis. Pulau Nipah adalah pulau terdepan yang menandai perbatasan wilayah Indonesia dengan Singapura. Hilangnya pulau terdepan berpotensi memperkecil wilayah perairan Indonesia. (NAW)

Sumber: KOMPAS, Rabu, 23 Desember 2009 | 06:26 WIB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: