Posted by: Hendra Siry | 31 August, 2009

Cepat Belajar dari Negara Sekitar

Susilo Bambang Yudhoyono; Memeriksa Persenjataan Kopassus (Yahoo! News/REUTERS/Rumgapres/Dudi Anung)Pada 1960-an, Indonesia tercatat sebagai negara kedua di Asia-Afrika yang berhasil meluncurkan roket sendiri setelah Jepang. Atas bantuan teknis Uni Soviet, negara yang pada saat itu dikenal unggul bidang roket, Indonesia meluncurkan Roket Kartika I pada 14 Agustus 1964, tiga hari menjelang peringatan kemerdekaan RI.

Selain itu, reaktor nuklir juga dirintis. Ketika itu, eksperimen teknologi Indonesia melampaui India dan Pakistan, yang kini dikenal agresif mengembangkan nuklir dan roket peluncur rudal. Dewasa ini, memasuki abad ke-21, peta kekuatan teknologi strategis di Asia berubah. Teknologi roket tersendat di Indonesia. India jauh menyalip.

India diprediksi bakal jadi kekuatan teknologi terkemuka, khususnya bidang teknologi informasi. Pakistan juga makin mapan dalam penguasaan nuklir dan teknologi militer. Bahkan Malaysia, negeri jiran yang dulu banyak belajar dari Indonesia, ditaksir segera melampaui Indonesia dalam teknologi ruang angkasa.

Belakangan, Malaysia menggandeng Rusia untuk mengembangkan teknologi penerbangan. Pada Oktober 2007, kosmonot Malaysia ikut penerbangan ke ruang angkasa dengan wahana Rusia, Soyuz. Rusia, yang pada saat bernama Uni Soviet jadi supervisor teknologi roket Indonesia, tahun 1960-an, kini digandeng Malaysia.

Korea Selatan, pada 1960-an, baru mulai meletakkan fondasi menuju negara maju. Kondisi ekonominya tak lebih baik dari Indonesia. Malah kalah dibandingkan dengan Korea Utara, yang lebih dulu mengalami industrialisasi atas sokongan negara-negara komunis: Uni Soviet, Jerman Timur, dan Polandia.

Park Chung-he, Presiden Korea Selatan tahun 1961-1979, menyadari bahwa negerinya tak punya apa-apa. Kekayaan alam juga tak memadai. Park Chung-he tak hendak membangun Korea berbasis sumber daya alam. Satu-satunya modal adalah sumber daya manusia.

Dengan gaya kepemimpinan diktator, Park Chung-he menghidupkan lima industri strategis berorientasi ekspor. Antara lain kapal, mobil, dan elektronik. Meski Park Chung-he harus mengakhiri kepemimpinannya secara paksa lewat pembunuhan, warisan otoritarian itu kini justru disyukuri rakyatnya.

Sementara Indonesia mengalami pasang-surut, industri dan teknologi Korea terus melesat. Di sela krisis ekonomi 1997-1998, Korea tetap menggaungkan spirit pengembangan teknologi dengan jargon Cyber Korea 21. Hal itu menjadi tekad Pemerintah Korea untuk mewujudkan visi ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).

Caranya, Korea menciptakan masyarakat berbasis informasi. Unit komputer disediakan di sekolah-sekolah. Daya saing industri dikawal jangan sampai merosot. Implementasinya, antara lain, dengan menghubungkan pusat pemerintahan, bisnis, dan individu lewat jaringan telekomunikasi. Pertumbuhan industri software penyedia informasi terus dipacu.

Skenario menyongsong ekonomi berbasis pengetahuan juga jadi bidikan kebijakan negara-negara di Asia, selain Korea. Misalnya Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Pengembangan teknologi bukan hanya monopoli negara yang terpacu kondisi negeri miskin sumber daya alam seperti Korea. Thailand, misalnya, menyadari bahwa kekuatannya pada kesuburan tanah. Maka, pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan pun didasarkan pada agrokultur.

“Negeri gajah putih” itu mengirim putra-putri terbaiknya belajar ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia. Begitu melihat bibit unggul, mereka langsung mengambil dan membudidayakannya. Kini Thailand dikenal unggul di sektor pertanian. Mereka berinvestasi menciptakan durian montong. Awalnya merugi, akhirnya jadi andalan.

Malaysia lain lagi. Mereka memiliki tanah, tapi tak sesubur Indonesia. Fokus perhatiannya pun pada pembangunan sumber daya manusia. Selama empat dekade, belanja pendidikannnya tak kurang dari 20%. Mereka mengirim anak-anak mudanya belajar ke luar negeri. Untuk mengisi kekosongan 40 tahun itu, Malaysia menarik tenaga ahli dari luar.

Jumlah ilmuwan Malaysia tak sebanyak di Indonesia, tapi mereka konsisten mengembangkanhuman capital. Pemerintah Malaysia memberikan beasiswa kepada generasi mudanya yang bersekolah di luar negeri. Strategi ini juga ditempuh Vietnam yang banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswanya yang belajar di luar negeri, termasuk Institut Teknologi Bandung.

Indonesia lebih banyak menunggu beasiswa dari negara lain. Alokasi dana pendidikan 20% di Indonesia baru berjalan dua tahun. Dibandingkan dengan negara sekitar, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan dari segi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mencapai ratusan juta.

Perjalanan negara-negara tetangga banyak mengajarkan bagaimana menyikapi keunggulan bidang sumber daya alam, seperti di Thailand, dan bagaimana melesatkan kualitas sumber daya manusia, seperti di Korea dan India yang berpenduduk amat besar.

Menurut Zuhal, guru besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, dalam bukunya, Kekuatan Daya Saing Indonesia: Mempersiapkan Masyarakat Berbasis Pengetahuan, Indonesia mengalami keterputusan pengembangan teknologi. Titik baliknya terjadi pada saat krisis ekonomi tahun 1997.

Jatuhnya B.J. Habibie dari panggung politik pada 1999 juga membuat pengembangan teknologi tidak populer di mata penentu kebijakan anggaran. Habibie adalah ikon teknologi di Indonesia. Padahal, krisis juga menimpa negara tetangga Indonesia. Tapi mereka tidak mengubah komitmen politik anggarannya dalam investasi teknologi.

“Sekarang kami berada dalam situasi ketika pengambil keputusan benci terhadap teknologi,” kata Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman. Ia menyebut contoh ketika Menteri Keuangan, (Menkeu) Sri Mulyani, menguraikan alokasi anggaran bencana.

Anggaran itu boleh dipakai untuk antisipasi dampak bom. “Bu Sri Mulyani menyebutkan, semua sektor boleh, kecuali masalah teknologi. Misalnya, dana dipakai untuk rehabilitasi transportasi dan pariwisata,” ujar Kusmayanto.

Padahal, kata Kusmayanto, efek peledakan bom itu harus ditengok dari perspektif teknologi. “Itu saya katakan tanpa mengurangi apresiasi saya kepada beliau (Menkeu) yang super-pintar, super-bersih, berdedikasi tinggi,” katanya. “Inilah yang terjadi dalam 20-an tahun terakhir. Teknologi memang belum dilirik.”

Jalan menuju kebangkitan, menurut Zuhal, adalah pembangunan human capital. Dimulai dengan sikap konsisten dan pemihakan negara pada penguatan mutu sumber daya manusia.

Asrori S. Karni dan Syamsul Hidayat
[Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 13 Agustus 2009]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: