Posted by: Hendra Siry | 13 August, 2009

Klaster perikanan jamin kepastian usaha

JAKARTA: Rencana pemerintah melakukan pembagian zona perairan (klaster perikanan) mulai 2010 akan menjamin kepastian antara pelaku usaha dan nelayan tradisional

“Zonasi ini menjamin adanya perencanaan dalam pemanfaatan perairan yang sebelumnya bebas. Zonasi ini memberikan kepastian bagi pelaku usaha termasuk di dalamnya nelayan tradisional,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad di Jakarta, kemarin.

Dia menyatakan pembagian zona perairan yang ditetapkan dengan mekanisme peraturan daerah ini mendorong proses transparansi. Pemerintah daerah diminta untuk membuat perda karena akan dapat dilihat transparansinya. .

Pembagian zona perairan oleh pemerintah ini nantinya akan membuat wilayah laut terbagi menjadi empat bagian yakni kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, kawasan nasional strategis tertentu, dan alur pelayaran.

Pembagian zona itu juga menjadi landasan bagi pembentukan klaster usaha perikanan tangkap dalam alur perairan hingga sepanjang 12 mil. Klaster usaha perikanan tangkap direncanakan diterapkan pada 2010.

Laut Arafura dan Laut China Selatan akan menjadi tempat uji coba. Terkait dengan hal tersebut, maka pemerintah dalam waktu dekat memfasilitasi 33 provinsi, dan 20 kabupaten/kota untuk menyusun peraturan daerah itu.

Sementara itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) menilai rencana pemerintah untuk melakukan pembagian zona perairan (klaster perikanan) mulai 2010 wujud praktik ketidakadilan negara dalam mengelola sumber daya kelautan dan perikanan.

LSM itu terdiri dari koalisi rakyat untuk keadilan perikanan (Kiara), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Bina Desa, Jaringan Advokasi untuk Nelayan Sumatra Utara (Jala), Sarekat Nelayan Sumatra Utara (SNSU), Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), dan Forum Masyarakat Peduli Tradisi Penangkapan Ikan Paut (FMPTPIP).

Sumber: Bisnis Indonesia. Artikel oleh Diena Lestari


Responses

  1. ketidak-adilan ruparupanya sudah merambah ke laut indonesia, setelah habis tanah republik kita dikaplingkapling oleh korporasi asing, sekarang lautnya,,
    nelayan, petani, buruh dan kaum tertindas seharusnya bersatu dalam satu suara,,
    sekalipun kepentingan sub-ordinat tiaptiap organ (buruh atau nelayan atau petani) majemuk rakyat berbeda, namun proses penghisapan sumberdaya alam terjadi dalam cara yg sama, dg dalih yg sama,,
    pertamatama mengatasnamakan kemajuan teknologi, namun setelah itu tidak ada yg tersisa karena yg dimaksud dg teknologi disini adalah mekanisme eksploitasi alam dg cara yg lebih canggih, mutakhir dan modern,,
    kita sudah tidak bisa lagi mengharapkan apapun dari pemerintah,,
    masyarakat miskin dan tertindas harus menentukan sendiri nasibnya bukan melalui perwakilan parlementer ala pemilu, namun melalui lembaga konsensus institusional yg terdiri dari tiaptiap intelektual sub-ordinat masingmasing organ -baik itu buruh, petani maupun nelayan- yg berpihak pada rakyat dan mampu memberikan akses terhadap ruang politik bagi masyarakat miskin bukan hanya dalam bentuk partai/golongan-golongan tertentu,,
    sekiranya akses politik yg dituju maka secara otomatis konstitusi masyarakat miskin akan mendapat hakhak utk mendapatkan kehidupan yg layak dan sesuai dg standar kesejahteraan,,

    karena dg adanya kebijakan klaster perikanan dan kelautan indonesia maka jelas sudah bahwa kemiskinan di indonesia bukan terjadi begitu saja, namun memang ada upayaupaya utk memiskinkan masyarakat yg tidak mampu berpolitik (impoliticable),,
    dan bila kebijakan ini lolos, maka habis sudah harapan masyarakat miskin akan adanya perubahan, dan sekali lagi korporasi-media-pemerintahlah yg menang,,

    oke, ini bukan selalu ttg menang-kalah, namun bila ruang politik bisa direbut dan suara massa bisa didengar dan diikuti maka setidaknya masyarakat miskin terbebas dari alienasi kemiskinan mereka dan memiliki daya tawar terhadap kebijakan apapun yg menyangkut kehidupannya,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: