Posted by: Hendra Siry | 11 August, 2009

Ribuan Telur Penyu Dijual ke Malaysia

Sebagian besar telur penyu hijau dan penyu sisik hasil perburuan di pesisir barat laut Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, dijual dan diselundupkan ke Serawak, Malaysia, melalui perlintasan tradisional di perbatasan darat.

Perburuan telur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) hingga saat ini masih terus berlangsung, padahal penyu termasuk satwa yang terancam punah dan keberadaannya dilindungi undang- undang.

“Sebagian besar telur penyu itu dijual ke Malaysia. Hanya sedikit yang dijual ke wilayah kita, seperti di Tebas, Sambas, dan Pinyuh (Kabupaten Pontianak), karena takut dirazia. Tiap butir dijual sekitar Rp 1.500-Rp 2.000,” kata Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat Dwi Suprapti, Selasa (28/7).

Menurut pantauan WWF, dalam dua bulan terakhir di sepanjang 8 kilometer pesisir pantai Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, hanya ada dua dari 904 sarang penyu yang telurnya selamat dari penjarahan manusia. Padahal, di tiap sarang penyu, diperkirakan ada 113-180 butir telur. Penjualan dan penyelundupan telur penyu dari Paloh ke Malaysia melalui perbatasan menjadi ironis mengingat di Malaysia juga ada kawasan konservasi penyu.

Dijelaskan, mereka juga melarang perburuan telur penyu di wilayahnya, tetapi masih mau menerima telur penyu yang diselundupkan dari Indonesia. Dari sekitar 63 kilometer pesisir pantai di Kecamatan Paloh yang biasa digunakan untuk tempat bertelur penyu, yakni bentang lahan dari Taman Wisata Alam Belimbing hingga Tanjung Datuk, praktis hanya di sepanjang 10 kilometer wilayah taman wisata yang terpantau oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar. Itu pun hanya ada satu petugas di sana.

Dwi menambahkan, selain perburuan telur penyu, ancaman lingkungan juga datang dari abrasi pantai. “Kalau telur-telur terguyur air laut, dia tidak akan menetas menjadi tukik. Lalu, sepanjang ruas pantai itu juga menjadi jalur transportasi motor dan mobil. Dengan demikian, kawasan penyu itu memang rawan rusak.”

Adapun di sebelah utara Taman Wisata Alam Belimbing akan dibangun Pelabuhan LNG saat ini dalam tahap pengusulan, maka nantinya akan ada hilir mudik kapal besar mengganggu ketenangan penyu-penyu. Padahal, penyu selalu meninggalkan pantai yang sudah ramai dengan aktivitas manusia.

Marine Species Programme National Coordinator WWF Indonesia Creusa Hitipeuw menyatakan, populasi penyu yang singgah untuk bertelur di pesisir pantai Paloh cukup banyak, tetapi ancaman bagi kelangsungan habitat di sana juga cukup serius. Hal itu yang mendorong WWF memberikan perhatian terhadap pelestarian penyu di pesisir Paloh.

Ia mengatakan, migrasi penyu hijau dan penyu sisik di kawasan itu diperkirakan mencapai Laut China Selatan hingga ke timur di Laut Sulu di Sulawesi. Namun, diperlukan penelitian yang mendalam untuk memastikan area jelajah penyu hijau dan penyu sisik tersebut. (WHY)

Sumber: Kompas, 29 Juli 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: