Posted by: Hendra Siry | 11 August, 2009

Penyu Dibantai untuk Diambil Telurnya

Perburuan telur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di pesisir barat laut Kalimantan Barat, yaitu di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, tidak terbatas mengambil telur dari sarang penyu. Sebagian pemburu telur bahkan membunuh dan membelah penyu untuk diambil telurnya.

Dalam perjalanan melihat habitat penyu di pesisir pantai Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, bersama WWF Indonesia, Kamis-Sabtu (30/7-1/8), ditemukan bangkai seekor penyu yang mulai membusuk, sekitar 2 kilometer sebelah selatan permukiman penduduk. Bagian perut penyu dengan panjang tubuh 98 sentimeter dan lebar 86 sentimeter itu terbelah dari samping.

Mulyadi, anggota staf monitoring WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, menuturkan, warga melihat bangkai penyu tersebut, Sabtu (25/7), dan melaporkan ke kantor WWF di Kecamatan Paloh, Minggu (26/7). “Saat kami datang, Senin, bangkai penyu belum bau. Diperkirakan penyu dibunuh pada Sabtu dini hari,” katanya.

Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalbar Dwi Suprapti menyatakan, dari corak di tempurungnya, penyu tersebut merupakan penyu hijau. Penyu betina yang diperkirakan berusia lebih dari 30 tahun itu dibunuh saat bertelur di pantai.

Dalam pantauan WWF selama dua bulan terakhir, di sepanjang 63 kilometer pesisir pantai Paloh ditemukan enam bangkai penyu hijau dalam kondisi tubuh terbelah. Jumlah riil penyu yang dibantai untuk diambil telurnya diperkirakan lebih banyak mengingat pemantauan WWF hanya di titik-titik tertentu.

Brigadir Satu Sari Wahyono, Komandan Satuan Perintis Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan Desa Temajuk, menyatakan, warga pernah melaporkan sejumlah orang yang dicurigai memburu telur penyu dengan cara membunuh. Namun, pihaknya tidak bisa gegabah menangkap orang itu tanpa bukti yang kuat.

Sekretaris Desa Temajuk Asman mengatakan, perburuan telur penyu lumrah bagi sebagian warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka melakukan saat melintasi tepi pantai yang menjadi jalur transportasi darat satu-satunya. “Selama akses jalan darat belum dibangun dan warga masih lewat tepi pantai, besar kemungkinan bagi mereka mengambil telur penyu,” katanya. (WHY)

Sumber: Kompas, 02 Agustus 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: