Posted by: Hendra Siry | 12 July, 2009

Rehabilitasi Terumbu Karang Pun Menarik Turis

Parta dan Sardi, warga kampung Paniis, boleh jadi tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, saat keduanya menemani dua wisatawan asing, Nigel dan Ryan, belajar menempelkan karang lunak pada substrat (media transplantasi), keduanya tampak percaya diri. “Okay… okay… like this?” kata Nigel sambil mengangguk-angguk. Tak perlu “bahasa Tarzan” sekali pun, karena teknik pengikatan bibit koloni karang ke substrat bisa diajarkan hanya dengan memberi contoh.

Kapal kayu yang disewa kelompok Paniis Lestari bersisian dengan kapal mewah Cecelia Ann milik Java Sea Charters, operator wisata bahari yang membawa 11 turis dari mancanegara. Di tengah perairan Pulau Badul, Ujung Kulon, Banten, pertemuan antarbangsa itu pun terjadi.

Kegiatan Build Your Own Reef (Bangun Sendiri Terumbu Karangmu) ini adalah yang ketiga kalinya dibuat, sejak tahun 2007. Konsepnya adalah menjual kegiatan ekowisata berupa rehabilitasi laut melalui penanaman karang (karang lunak dan karang keras), pada para wisatawan lokal maupun asing. Kebetulan sejak tahun 2003, kelompok Paniis Lestari yang dibina oleh WWF Indonesia proyek Ujung Kulon telah mulai membuat lahan pembibitan karang lunak. Lahan pembibitan (coral farm) tersebut semula dibuat untuk menjadi sumber penghasilan alternatif dengan menjual hasil ternakan pada penyuplai kebutuhan akuarium ikan hias. Namun, mencari penyuplai rutin dan menentukan harga rupanya bukan perkara mudah, demikian pula dengan mempertahankan laju hasil ternakan.

Kini dengan Build Your Own Reef, pemanfaatan ternakan terumbu karang dipadu dengan konsep ekowisata. Java Sea Charters menjual paket menanam karang ini dengan harga Rp 2.5 juta rupiah per orang, dengan komitmen memberikan 80 persen dari pendapatan tersebut untuk mendukung material dan rak beton. Paket ini ternyata tak pernah sepi peminat. Rupanya, penyelam pun kini tidak ingin sekadar menjadi penikmat pasif yang hanya bisa menonton keindahan bawah laut. Mereka ingin terjun dan merasa bangga karena dapat berkontribusi bagi keberlangsungan kehidupan di laut.

Sumber: Suara Pembaruan, 05 Juli 2009. Teks : Lasti Kurnia


Responses

  1. Saya tertarik ikut menanam.
    Berapa umur terumbu karang sampai tumbuh dewasa? Berapa ukurannya?
    Mohon info untuk program penanaman selanjutnya.
    Apakah ada musim tanamnya atau sewaktu-waktu bisa?

  2. Saya sebagai penggiat ekowisata di Ujungkulon dalam waktu dekat akan segera menjalin kerjasama dengan Kelompok Paniis Lestari seperti halnya kerjasama saya selama ini dengan koperasi Gema Umat / KAGUM Tamanjaya.
    Salut dan salam ntuk bung Andre, mas Adhi dan kawan-kawan di WWF Ujungkulon Project.
    Salam kenal juga buat bung Hendra Siry, sampai ketemu di FB dan mungkin di Ujungkulon..

    Salam lestari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: