Posted by: Hendra Siry | 3 July, 2009

TAMAN NASIONAL KOMODO: DPRD Minta Penambangan Dihentikan

Labuan Bajo, Kompas –  DPRD Kabupaten Manggarai Barat di Pulau Flores melalui ketuanya tetap akan meminta bupati setempat untuk menghentikan sementara kegiatan penambangan di kawasan Batugosok, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Permintaan resmi akan direkomendasikan melalui rapat khusus pimpinan Dewan dalam waktu dekat.

Hal itu disampaikan Ketua DPRD Manggarai Barat Matheus Hamsi di Labuan Bajo, Kamis (2/7) petang. ”Saya setuju dan sependapat dengan Deputi I Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermien Roosita sebagaimana dikutip Kompas,” ujarnya.

Hermien Roosita, Rabu lalu, mengatakan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup langsung meminta Pemerintah Provinsi NTT segera turun tangan menyetop kegiatan tambang emas di Batugosok. Kegiatan di lapangan tersebut sudah masuk kategori konstruksi dan bukan lagi sekadar eksplorasi seperti dikatakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Artinya, aktivitas penambangan di sana seharusnya didahului analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) (Kompas, 2/7).

Labuan Bajo dan Batugosok terletak di tepi barat Kabupaten Manggarai Barat. Batugosok berjarak sekitar 10 kilometer utara Labuan Bajo. Garis pantai itu langsung menghadap Taman Nasional (TN) Komodo yang terdiri dari Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan sejumlah pulau lainnya, termasuk Papagaran. Labuan Bajo, Batugosok, dan daerah sekitarnya termasuk kawasan wisata komersial sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Manggarai Barat Nomor 30 Tahun 2005.

Dari pengamatan di lapangan, aktivitas penambangan di Batugosok hingga Kamis petang terus berlanjut. Kegiatan pengeboran melalui dua rig-nya tetap berjalan seperti biasa. Selain itu, di bagian hilir lokasi atau sekitar garis pantai terlihat dua warga melanjutkan pembukaan jalan baru dalam kawasan tambang.

Matheus Hamsi mengakui aksi penentangan penambangan Batugosok semakin luas. Karena itu, ia merasa DPRD perlu segera meminta bupati setempat untuk menangguhkan dahulu kegiatan lapangan penambangan emas di Batugosok.

”Yang dibutuhkan sekarang redakan dahulu aksi penentangan atas aktivitas tambang itu, yaitu dengan meminta bupati untuk menangguhkan dahulu kegiatan lapangan di Batugosok. Tentang kemungkinan pembentukan pansus di DPRD, mungkin itu langkah berikutnya nanti,” kata Hamsi.

Menurut Hamsi, sesungguhnya sangat tidak beralasan bagi Bupati Manggarai Barat mengizinkan penambangan di Batugosok. Alasannya karena kawasan itu termasuk zona pariwisata sebagaimana telah diatur melalui Perda No 30/2005. Selain itu, rencana pembangunan jangka pendek daerah Manggarai Barat 2005 juga, antara lain, membebaskan kawasan wisata dari pertambangan. ”Kami tidak tahu Bupati Manggarai Barat sudah mengeluarkan izin pengelolaan tambang emas di Batugosok. Padahal, seharusnya dikonsultasikan dahulu dengan DPRD,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Forum Pariwisata Manggarai Barat Marius Saridin mengakui sikap forumnya sudah jelas, yakni secara tegas menolak penambangan di Batugosok.

”Sikap kami sudah harga mati karena kehadiran tambang itu jelas akan mengganggu pariwisata yang telah menjadi andalan daerah ini,” ujarnya.

Pernyataan senada dilontarkan Feri Adu, aktivis Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Geram) di Labuan Bajo. ”Kami akan terus berjuang hingga bupati mencabut izin kuasa pertambangan Batugosok yang diberikan kepada PT Grand Nusantara,” kata Feri, Kamis.

Sikap bupati

Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda menyatakan penyesalan mendalam terhadap pemberitaan yang mengesankan seolah lokasi tambang Batugosok berada di dalam kawasan TN Komodo.

”Batugosok itu di Pulau Flores, tidak ada kaitannya dengan TN Komodo. TN Komodo itu luasnya 173.300 hektar yang meliputi wilayah perairan dan sejumlah pulau. Batas wilayahnya hanya sampai Pulau Papagaran, jauh dari Batugosok,” kata Pranda kepada Kompas di Labuan Bajo, Kamis.

Penjelasan serupa dikirimkan secara tertulis oleh Kepala Dinas Perhubungan, Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Manggarai Barat Stef Ngadi Yanto atas nama bupati.

Pranda juga tak sependapat dan menyayangkan pemberitaan yang mengutip masyarakat yang dinilainya tidak bertanggung jawab. ”Beritanya tidak adil dan wartawan seharusnya tahu di mana lokasi TN Komodo dan di mana tambang,” ujarnya.

Pranda kembali menegaskan, aktivitas penambangan di Batugosok masih tahap eksplorasi atau belum memasuki eksploitasi sehingga belum memerlukan amdal. Ia juga menjamin aktivitas di Batugosok tidak merusak laut di sekitarnya.

Belum terima laporan

Sementara itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di Bandung, Jawa Barat, kemarin, mengaku belum menerima laporan mengenai aktivitas eksplorasi pertambangan yang dilakukan oleh investor asal China di kawasan TN Komodo.

Pihaknya berjanji akan mengecek lebih dahulu sebelum mengambil langkah. ”Saya belum bisa memberi komentar lebih banyak mengenai hal itu,” kata Jero Wacik seusai memberi kuliah umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata, Yapari Aktripa, Bandung. (ANS/GRE)

Sumber: Kompas: Jumat, 3 Juli 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: