Posted by: Hendra Siry | 23 June, 2009

Pemutihan Karang Massal Terjadi Lagi di Bali Utara

Proses pemutihan karang atau coral bleaching kembali terjadi di kawasan laut utara Pulau Bali. Hal itu merupakan akibat langsung dari tingginya suhu air laut yang tidak normal yang disebabkan oleh pemanasan global. Jika kondisi ini semakin parah akan sangat merugikan nelayan dan pariwisata kawasan itu di waktu-waktu yang akan datang.

Hasil penelitian cepat yang dilakukan Yayasan Reef Check Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam advokasi dan penelitian lingkungan bawah laut, di sepanjang 120 kilometer kawasan laut pesisir antara Pemuteran, Kabupaten Buleleng, hingga Amed (Karangasem), antara Mei-Juni ini menunjukkan gejala pemutihan yang sama di sepanjang garis pantai di utara Bali.

“Pemutihan karang keras paling parah di Amed, mencakup sekitar 40-55 persen dari jumlah tutupan karang keras yang ada. Sementara tingkat pemutihan paling rendah ditemukan di Tulamben, yakni sekitar 10 persen dari total tutupan karang keras,” kata Naneng Setiasih, Pimpinan Yayasan Reef Check Indonesia di Denpasar, Selasa (23/6).

Kondisi yang beragam ditemui di sejumlah titik penelitian lainnya. Di sekitar Pantai Lovina, salah satu pusat pariwisata di utara Bali, tingkat pemutihan karang mencapai 25-30 persen, Sembiran 20-25 persen, serta Bondalem 30-45 persen. Meratanya pemutihan karang yang terjadi, kata Naneng, adalah salah satu ciri utama pemutihan yang disebabkan oleh pemanasan global.

Hal yang sama juga terjadi pada tahun 1997-1998 silam, yang dampaknya juga terasa di sebagian perairan Indonesia, termasuk Bali. Kala itu, tingkat pemutihan karang di kawasan laut Taman Nasional Bali Barat mencapai 90 persen.

Adapun jenis-jenis karang keras yang ditemukan memutih meliputi Acropora tabulate dan cabangnya, Pocillopora sp, Stylopora, Montipora (submasive and encrusting), Porites, Pavona, Hydnopora, Favites, Galaxea, Fungiid (Fungia, Ctenactis and Sandhalolita), Astreopora, Symphillia, Platygyra, Diploastrea, Heliopora, Lobophylia, Millepora, Goniastrea, dan Pectinia. Sementara jenis nonkarang keras yang terkena adalah karang lunak (Sarchophyton dan Sinularia), Anemon, dan Zooanthid.

Laporan nelayan
Naneng mengungkapkan, penelitian cepat itu dilakukan untuk menanggapi laporan dari para nelayan di Tejakula, Buleleng, sekitar sebulan lalu. Mereka mengeluh adanya gejala pemutihan karang di sepanjang pantai di Tejakula. Setelah mendapatkan laporan itu, timnya segera bergerak ke lapangan. Selain swadaya, mereka juga mendapatkan dukungan dari sejumlah pengelola pariwisata, operator selam, maupun nelayan setempat.
“Hasil penelitian itu memang sengaja kami umumkan cepat-cepat agar segera mendapatkan perhatian dari khalayak. Jangan memberikan tekanan lebih besar pada habitat karang sehingga tingkat pemutihannya tidak semakin parah,” kata Naneng.

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang ini akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia. Di Bali, terumbu karang merupakan aset ekonomi yang sangat vital dari sisi perikanan dan atraksi wisata. Sebuah penelitian di Taman Nasional Bali Barat menunjukkan penurunan keinginan membayar dari setiap wisawatan Rp 16.290 untuk setiap kehilangan 10 persen tutupan mahluk hidup. Hal ini berarti secara hipotesis, penurunan tutupan mahluk hidup dari tahun 1996 ke 1998 karena pemutihan karang massal dan hama Acanthaster mengakibatkan kerugian hingga Rp 692 miliar. Berkurangnya tutupan karang keras di atas 10 persen juga dapat mengurangi kelimpahan jenis ikan sampai 62 persen.

Mengutip laporan World Wide Fund tahun 2004 lalu, Naneng mengatakan, kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global, misalnya telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya 2,5-6 miliar dollar AS dalam kurun waktu 19 tahun. Sementara di Asia Tenggara, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun ke depan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai 38,3 miliar dollar AS.

Sumber: Kompas, 23 Juni 2009. Oleh : Robertus Benny Dwi K. Denpasar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: