Posted by: Hendra Siry | 21 June, 2009

Selamatkan Regenerasi Penyu!!!

Malam semakin beranjak larut. Debur ombak di tepian Pantai Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memecah suasana keheningan malam yang pekat tanpa lampu ataupun penerangan lain di penangkaran penyu milik Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Tiba-tiba terdengar suara, ”Kang, jangan bergerak atau menyalakan cahaya. Tuh, sudah ada yang naik.” Wajah si pembicara tidak terlihat dalam kegelapan. Dari jarak sekitar 50 meter terlihat bayangan hitam muncul dari laut menuju ke darat.

Itulah penyu hijau (Chelonia mydas) yang hendak bertelur di pantai. Suara yang tadi memberi peringatan ternyata milik Agus, penjaga pos satu tempat penyu bertelur. Di tempat itu terdapat enam pos tempat penyu bertelur.

Sekitar satu jam kemudian, penyu hijau dengan diameter sekitar 1,5 meter itu sudah tiba di tempat yang dia pilih untuk bertelur. Terdengar suara kaki penyu menggali pasir putih pantai, selama sekitar 45 menit. Dalam sekali bertelur, penyu bisa mengeluarkan 50-100 telur selama sekitar dua jam. Untuk menghindarkan dari penjarahan dan dimangsa binatang, para petugas di setiap pos mengambil telur penyu tersebut untuk ditanam lagi di wilayah penangkaran. Tempat penanaman telur seluas sekitar 50 meter persegi ini berpagar bambu dan dijaga petugas.

Telur-telur itu akan menetas 2-4 minggu setelah ditanam. Kemudian, tukik yang siap kembali ke lautan dilepas di pantai tersebut secara alamiah, yaitu dibiarkan berjalan di pasir hingga menyentuh bibir pantai untuk menuju ke habitat mereka di Samudra Hindia.

Penyu bisa hidup hingga umur lebih dari 100 tahun. Bintang ini sudah ada sejak akhir zaman Jura atau 145-208 juta tahun lalu. Akibat perburuan dan perdagangan telur ilegal, populasi penyu terus menyusut. Berbagai aturan pun dikeluarkan untuk menjaga kelestarian binatang yang terancam punah ini, seperti Appendix I CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and Fauna) yang berarti perdagangan penyu dilarang di dunia internasional, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Meski demikian, praktik perdagangan telur penyu masih sering dijumpai. Tidak sedikit wisatawan di sana ditawari mencicipi telur penyu oleh sejumlah oknum masyarakat setempat secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, perlu kesadaran manusia untuk menghargai hakikat hidup sesama makhluk demi kelestarian penyu itu sendiri. Selamatkan regenerasi penyu!

Sumber: Kompas, 21 Juni 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: