Posted by: Hendra Siry | 19 April, 2009

70 Persen Terumbu Karang Sultra Rusak

Ada fakta mengejutkan yang terungkap dalam Pertemuan Koordinasi dan Sinkronisasi Program dan Anggaran Coremap II Sultra Tahun 2009. Dalam pertemuan yang digelar di Kendari, Kamis (16/4), diketahui kalau terumbu karang di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami kerusakan hingga mencapai 70 persen. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra Hotman Hutauruk di sela-sela kegiatan yang dihadiri Sekretaris Eksekutif Coral Rehabilitation Reef and Management Project (Coremap) II Jamaluddin Jompa. Sayang, total luasan terumbu karang yang dimiliki Sultra tidak mampu disebutkan secara pasti.

“Kami tidak memiliki data soal itu. Mengenai total kerusakan itu kita berdasarkan pengamatan saja saat melakukan survei di lapangan,” kata Hotman. Bahkan, Jamaluddin sendiri, selaku pembicara utama dalam pertemuan itu, juga mengaku tidak tahu dengan angka pasti luas terumbu karang di Sultra. Menurut Jamaluddin, Coremap hanya memiliki data terumbu karang secara nasional, yakni 60 ribu kilometer persegi. Sementara untuk rinciannya di Sultra data itu tidak ada. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk mengetahui secara pasti berapa luas terumbu karang kita di Sultra,” katanya.

Secara nasional, kata Jamaluddin, Indonesia harus kehilangan devisa hingga Rp20,4 triliun per tahun akibat rusaknya terumbu karang. Angka itu diperoleh dengan membandingkan antara potensi hasil perikanan wilayah yang terumbu karangnya terkelola dengan baik dan wilayah yang terdegradasi. Hasil perikanan pada daerah yang dikelola dengan baik, potensi perikanannya mencapai 25 ton per kilometer persegi per tahun. Sementara kawasan yang terumbu karangnya terdegradasi hanya mampu mencapai 5 ton per kilometer persegi per tahun. Sehingga kehilangan produksi perikanan mencapai 20 ton per kilometer persegi per tahun.

Dengan asumsi harga hasil perikanan per ton sebesar Rp17 juta, maka kehilangan kita mencapai Rp20,4 triliun per tahun dengan luas 60 ribu kilometer persegi. Untuk menanggulangi masalah itu, pemerintah daerah bekerja sama dengan Coremap untuk merehabilitasi kawasan terumbu karang di Sultra. Saat ini, program Coremap hanya mencakup wilayah Kabupaten Wakatobi dan Buton. “Total anggaran untuk 2009 ini sekitar Rp4 miliar. Ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2008 lalu yang hanya Rp3 miliar,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Coremap II  Sultra, Risna.

Menurut anggota Komisi B DPRD Sultra Yaudu Salam Ajo, sebenarnya persoalan terumbu karang di Sultra tidak begitu tersosialisasi dengan baik. Karena itu, secara politik wacana tersebut tidak memiliki kekuatan. Saya mencontohkan, dari 45 anggota DPRD provinsi, mungkin hanya saya yang sedikit mengerti tentang nilai ekonomi dari terumbu karang. Sehingga, saat pembahasan anggaran di DPRD, wacana yang kita suarakan kalah dibanding isu lainnya,” katanya.
Sumber : Jurnal Nasional, 17 April 2009. Artikel oleh Andi Syahrir, Kendari.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: