Posted by: Hendra Siry | 16 April, 2009

Terancamnya Sang Predator

Penangkapan berlebih mengancam populasi hiu. Spesies baru ditemukan di perairan Indonesia, termasuk di laut dalam. Lelang ikan hiu di Pelabuhan Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur, cuma berlangsung 20 menit. Misbahul Umam, pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan, yang bertugas mencatat lelang tersebut, menjelaskan, dalam sehari nilai transaksi Rp 10-15 juta. “Padahal pada 1990-an, dalam sehari bisa mencapai Rp 100 juta,” kata Misbahul kepada Tempo, Rabu dua pekan lalu.

Merosotnya jumlah tangkapan hiu juga terjadi di Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap. Kepada Tempo, Joko Riyanto menjelaskan, sejak tahun lalu, dalam satu hari nelayan hanya menangkap satu sampai dua ton. Bandingkan dengan pada 1998, kata pegawai di pelabuhan itu, hasil tangkapan mencapai 10 ton hiu. Data yang diungkap Misbahul dan Joko bisa menjadi sinyal mulai terancamnya habitat hiu di perairan Nusantara.

Dari data Departemen Kelautan dan Perikanan, pada 2002 hasil tangkapan hiu dan pari di Indonesia diduga 105.000 ton. Setahun berikutnya naik menjadi 118 ribu ton. Namun, jumlah itu turun lagi menjadi 100.037 pada 2005 dan 110.528 ton satu tahun berikutnya. “Tahun-tahun sebelumnya terjadi eksploitasi hiu berlebihan,” kata Dharmadi, peneliti ikan hiu dan pari dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

Menurut Dharmadi, nelayan spesialis hiu mengeluh karena harus berlayar lebih jauh dan lama lagi untuk mendapatkan ikan yang memiliki harga sirip paling mahal itu. Padahal, seperti disebut Stephen J.M. Blaber, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati hiu dan pari yang tertinggi di seluruh samudra. Keduanya dikenal sebagai jenis ikan bertulang rawan atau elasmobranchii.

Di dunia, ada 375-500 spesies hiu yang dikenal. Dari jumlah itu, 148 spesies habitatnya di perairan Indonesia. Hiu yang dikenal sebagai predator ganas berasal dari famili Carcharhinidae dan sering dijumpai di Samudra Pasifik.

Untuk mengetahui kondisi hiu dan pari di Tanah Air, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Murdoch University, dan Queensland Department of Primary Industries melakukan riset sejak 2001 sampai 2007. Tim peneliti mendatangi 11 lokasi pendaratan ikan yang tersebar di Tanah Air, yakni Jakarta, Pelabuhan Ratu, Pekalongan, Cilacap, Tanjung Luar, Kedonganan (Bali), Kupang, Kendari, dan Merauke.

Dari hasil survei tercatat ada 80 spesies hiu dari 21 famili yang tertangkap nelayan. Jenis-jenis hiu ini ternyata masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang sebagian di antaranya hampir terancam atau rentan mengalami kepunahan.

Hiu yang masuk daftar merah itu antara lain Heptranchias perlo (hiu kucing), Hexanchus griseus (cucut meong), Hexanchus nakamurai teng (hiu minyak), Centrophorus atromargianatus (hiu botol), Centrophorus isodon (cucut botol), Centrophorus cf lusitanicus (hiu botol), Centrophorus moluccensis (hiu botol danten), Centrophorus niaukang Teng (hiu botol karang), dan Centrophorus squamosus (hiu botol atau hiu taji). Ada lagi Deania cf calcea (hiu botol monyong), Dalatias licha (hiu beurit), Isistius brasiliensis, Zameus squamulosus (hiu beurit), Cirrhigaleus barbifer Tanaka (hiu tinggam hitam), Squalus sp.1 (hiu botol), Squalus sp. (hiu botol), Squalus cf sp.C (hiu botol), dan Squalus sp.E (hiu botol).

Sejumlah kapal memang khusus mencari hiu di Laut Arafuru dan Samudra Hindia. Mereka menggunakan pancing long line, jaring gillnet, pancing rawai dasar, dan sebagainya. Banyak di antaranya yang memburu sirip hiu. Spesies Rhinobatidae, yang berada di perairan Indonesia dengan di Australia, merupakan yang termahal. “Sekitar Rp 1 juta tiap kilogram,” kata Dharmadi.

Kajian ekologi yang dilakukan The Nature Conservancy, World Wildlife Fund, dan Departemen Kehutanan pada 2002 tidak menemukan hiu karang pada lokasi survei di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Para peneliti mendapat informasi pesatnya perdagangan sirip hiu sejak empat dekade lalu. Sejumlah kapal dari Filipina dan pengusaha di Sorong berani membayar Rp 1,8 sampai 3 juta per kilogram kepada warga untuk menangkap hiu di kawasan Kepadiri, Pulau Waigeo, Raja Ampat.

Tidak hanya di Indonesia, penangkapan hiu juga terjadi di banyak tempat. Shelley Clarke, ahli perikanan yang melakukan penelitian pada 2006, mencatat, rata-rata dalam setahun ada 73 juta hiu di dunia yang dibunuh untuk diambil siripnya. Angka ini tiga kali lebih besar daripada data resmi yang dikeluarkan FAO (badan PBB yang mengurusi pangan dan pertanian), yang cuma mencatat perdagangan legal hiu.

Selain penangkapan berlebih, terancamnya hiu lantaran hewan bertulang lunak ini memiliki karakteristik biologi yang spesifik. Umur hiu relatif panjang, memakan waktu lama untuk mencapai dewasa, dan memiliki fekunditas sangat rendah. Telur yang dihasilkan hiu ini juga sedikit, sekitar 20 butir.

Tak hanya itu, hiu betina baru matang kelaminnya pada usia 3-7 tahun. Sebelum bertelur, mereka sudah terjaring kapal penangkap ikan. “Dari survei yang kami lakukan, banyak kapal yang menangkap hiu pada usia itu,” kata Dharmadi, yang menjadi anggota tim peneliti Indonesia dan Australia. Pemakaian bom dan racun oleh nelayan untuk menangkap ikan juga jadi ancaman lainnya. Maklum, terumbu karang, yang merupakan habitat ikan, menjadi rusak sehingga makanan hiu terus berkurang.

Untuk mengerem merosotnya populasi hiu, FAO menetapkan Rancangan Penanggulangan Internasional (International Plan of Action-Shark). Melalui rancangan ini, PBB mengimbau agar negara-negara yang menggunakan elasmobranchii sebagai sumber perikanan berhati-hati dalam pemanfaatan dan pengelolaannya. Tujuannya agar negara produsen memperkirakan stok secara berkala dan, bila perlu, melakukan pengelolaan berbasis ilmiah untuk melindungi spesies yang masuk daftar merah IUCN dengan status terancam punah tersebut.

Salah satu acara pada World Ocean Conference, 11-15 Mei 2009, di Manado, adalah simposium internasional tentang sains, teknologi, dan kebijakan kelautan. Ada 13 tema yang dibahas, termasuk mengenai hiu dan pari. Para ahli mancanegara akan membahas keanekaragaman, pengelolaan, dan konservasi hiu untuk pembangunan berkelanjutan. Panitia membuat tiga sasaran dari simposium. Pertama, review keberadaan hiu dan pari. Kedua, analisis keanekaragaman, dan terakhir inisiatif Indonesia mencegah kepunahannya.

Departemen Kelautan dan Perikanan telah membuat National Plan of Action. Dalam rancangan ini diatur spesies hiu dan pari yang boleh ditangkap dan jumlah tangkapannya. “Kami mulai melakukan penyuluhan kepada nelayan,” kata Dharmadi, yang menjadi salah satu pembicara dalam simposium di Manado itu. Pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Raja Ampat di Papua Barat juga mulai merancang aturan itu.

WildAid, organisasi konservasi internasional, melakukan kampanye untuk menolak sirip hiu disajikan di restoran Cina. Ikut mendukung kampanye ini aktor laga Jacky Chan dan pemain bola basket NBA asal Cina, Yao Ming. Semua upaya itu memang harus dilakukan untuk mencegah punahnya sang predator dari habitatnya.
Sumber : Koran Tempo, 15 April 2009. Artikel oleh Untung Widyanto


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: