Posted by: Hendra Siry | 6 April, 2009

Air Mengalir Hanya Saat Sang Dubes Datang

Arikel oleh Deytri Aritonang

Angin segar sedikit berembus di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Pagi, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Air bersih yang mereka idam-idamkan sejak dulu, kini dapat mereka akses dengan fasilitas air minum dan cuci tangan yang baru diresmikan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Cameron R Hume, Kamis (19/3) lalu.

Bukan lagi berita baru kalau warga di daerah utara Jakarta sulit mendapat akses air bersih. Dekatnya permukiman warga dengan laut membuat kualitas air di sana buruk. Bagi keluarga dengan penghasilan tinggi dan lembaga dengan pendanaan besar, air bersih bukan lagi menjadi masalah. Pasalnya, mereka dapat dengan mudah menyisihkan sedikit dari kasnya untuk membuat sambungan air PAM dan mengalirkan air bersih ke tangki-tangki airnya.

Lantas, bagaimana dengan warga kelas menengah ke bawah? Sebagai catatan, mayoritas masyarakat Kelurahan Ancol adalah warga kelas menengah ke bawah dengan mata pencaharian sektor informal. Mungkin, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi warga selain menggunakan air tanah yang kualitasnya tidak layak dikonsumsi. Dengan penghasilan yang mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, warga hanya mampu membeli air bersih dari penjual air pikul dengan harga Rp 1.500 setiap pikul.

Dengan perhitungan satu pikul terdiri dari dua jeriken dan satu jeriken berisi 20 liter air, artinya warga harus membayar Rp 1.500 untuk memperoleh 40 liter air.
Jumlah itu, menurut beberapa warga Ancol, hanya cukup untuk air minum dan masak. Kebutuhan air lainnya mereka suplai dari air tanah.

Ketersediaan air akan menjadi masalah besar bagi siswa tingkat SD. SDN 03 Pagi bukanlah sekolah negeri dengan keuangan yang memadai untuk mengonsumsi air PAM. Selama ini, sekolah yang memiliki gedung yang sama dengan SDN 04 Petang itu hanya menggunakan air tanah untuk sanitasi.

Kepala sekolah membeli air mineral dalam galon untuk kebutuhan minum guru dan karyawan. Sementara itu, siswa minum dengan air minum yang dibawanya dari rumah. Hume mengatakan, ketiadaan air yang aman dan fasilitas sanitasi yang memadai merupakan penyebab utama penyakit diare. “Penyakit tersebut menjadi penyebab kedua kematian anak-anak usia balita di Indonesia,” katanya seperti dilansir siaran pers Kedutaan Besar AS untuk Indonesia.

Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2009, Helping Hands Club Jakarta Internasional School (JIS), PT Freeport Peduli, dan Jakarta Free Spirit Running Club menyediakan fasilitas air minum serta cuci tangan di SDN 03 Pagi. Proyek ini kemudian diberi nama Proyek Air di Sekolah.
Air di Sekolah diwadahi Proyek Aman Tirta yang didanai Badan Pembangunan Internasional Pemerintah AS (USAID). Proyek Air di Sekolah diharapkan mampu mengatasi masalah kesulitan air untuk mencegah penyakit diare dan penyakit lain yang menyebar melalui pencemaran air minum.

Kepala SDN 03 Pagi Widodo mengatakan, kualitas air tanah yang dimiliki sekolahnya buruk. Dari pengamatan SH, secara kasat mata air tanah di sana bersih, bening, dan tidak berbau. Namun, seperti dijelaskan Widodo, hasil pemeriksaan laboratorium membuktikan, air mengandung bakteri dan tidak layak konsumsi. Jika dimasak, air akan meninggalkan kerak berwarna putih di panci dan pada permukaan air akan terlihat berminyak. Penjaga sekolah SDN 3 Pagi, Warto, mengatakan rasa air payau, sedikit asin.

Berkat koordinasi yang dilakukan Widodo dengan USAID, sejak bulan Februari lalu, SDN 03 Pagi mendapat hibah fasilitas cuci tangan berupa tangki air dengan empat wastafel dilengkapi empat keran air dan 10 tangki air mini yang diletakkan di pinggir lapangan sekolah.

Bantuan USAID

Sinergi antara SDN 03 Pagi, USAID, PT Freeport Peduli, Jakarta Free Spirit Running Club, dan JIS kemudian menghasilkan hibah pengadaan air bersih siap minum kepada sekolah yang memiliki 376 siswa ini.

SDN 03 Pagi mendapat bantuan berupa dua tangki air berkapasitas 100 liter dan 100 sachet AirRahmat, yaitu zat yang berkemampuan memurnikan air bersih menjadi air minum. Bantuan yang sama juga akan diberikan kepada lima sekolah lain, yaitu SDN 01 Ancol, SDN 02 Pademangan, SDN 09 Pademangan Timur, SDN 12 Pademangan Barat, Jakarta Utara, dan Perpustakaan Terapung, Kapuk Cengkareng, Jakarta Barat.

Pengelola sekolah hanya tinggal membiayai biaya operasional penggunaan air. Widodo mengatakan, alokasi dana sudah tersedia di Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pos telepon, air, dan listrik (TAL).

Kamis lalu, sebagai peringatan Hari Air Sedunia 2009, fasilitas itu diresmikan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Cameron R Hume. Berbagai persiapan dilakukan untuk acara penting itu, termasuk memenuhi tangki-tangki air dengan air bersih yang disediakan operator PAM Jaya. Fasilitas itu disambut dengan antusiasme para siswa. Akhirnya, akses air bersih tidak lagi menjadi perkara yang sulit bagi mereka.

Namun sayangnya, ternyata air hanya tersedia saat peresmian saja. Kunjungan SH ke sekolah yang bersebelahan dengan gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri 113 itu, Jumat dan Sabtu (20, 21/3), memperlihatkan tidak tersedianya air pada fasilitas-fasilitas itu.

Widodo mengungkapkan, Surat Perintah Kerja (SPK) untuk mengalirkan air ke sekolah telah dikeluarkan. Namun hingga kini, siswa belum juga dapat menikmati air bersih. Jangan-jangan ketersediaan air saat peresmian hanya simbol saja.

Smber:  Sinar Harapan, 23 MAret 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: