Posted by: Hendra Siry | 5 April, 2009

Dua Desa di Bengkulu Terancam Hilang

Dua desa di Bengkulu, Penago Baru dan Rawa Indah, terancam hilang akibat aktivitas tambang pasir besi oleh sebuah perusahaan pertambangan yang beroperasi sejak tahun 2005. Kawasan tambang itu mencakup kawasan hutan bakau Cagar Alam Pasar Talo. Keberadaan hutan bakau selama ini menghidupi warga secara turun temurun. Kerusakan bakau kini berdampak pada keberlanjutan hidup komunitas.

”Kami sudah sering protes, tetapi tak diperhatikan,” kata salah satu warga Rawa Indah, Kabupaten Seluma, Andi Wijaya, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (25/3), seperti disiarkan Manajer Sekretariat Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Luluk Uliyah. Protes tak hanya mengenai kerusakan ekologis dan ancaman kehidupan warga, tetapi juga izin operasi tambang.

Dampak pertambangan yang dirasakan warga di antaranya abrasi akut, intrusi air laut ke sumur-sumur warga, hingga gagal panen. Tradisi cari kerang kini terancam hilang karena sulit dicari di pasir-pasir pantai.

Sumber irigasi sekitar 100 hektar sawah, Sungai Tebat Batang, dibendung PT FN untuk kebutuhan tambang. Kebun kelapa sawit seluas 5 hektar milik warga pun sering kali terendam air.

Konflik horizontal

Keberadaan aktivitas tambang juga memicu konflik horizontal antarwarga—yang menolak dan yang mendukung. Abrasi laut juga terus mendekati permukiman warga—kini tinggal sekitar 50 meter dari bibir pantai.

Sejak Agustus 2008, sekitar 1.000 warga mendatangi Kantor DPRD Provinsi Bengkulu meminta penghentian tambang, tetapi tiada hasil. Unjuk rasa di Kantor Bupati Seluma dengan jumlah pengunjuk rasa lebih banyak pun gagal. Terakhir, selama tiga hari (28-30 Januari 2009) warga menduduki kantor bupati. Itu pun tak berhasil. Kepala daerah tak menemui mereka.

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Riza Damanik mengatakan, fakta pengabaian kualitas pesisir itu menunjukkan, wargalah yang lebih peduli. Kawasan pasang surut dengan kemiringan lebih rendah semestinya tak layak ditambang.

Berdasarkan temuan di lapangan, tambang itu tak didukung proses izin secara memadai. Pemberian kuasa pertambangan tak didahului kajian memadai. Perusahaan berada di wilayah cagar alam, permukiman penduduk, daerah kelola nelayan tradisional, dan kawasan peruntukan wisata seperti tertuang dalam Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bengkulu. Analisis mengenai dampak lingkungan provinsi pun disahkan setelah eksploitasi.

”Perusahaan tak pernah melaporkan perkembangan perusahaan dan pemantauan lingkungan kepada badan lingkungan hidup. Namun, proses tambang jalan terus,” kata Andi.

Royalti untuk daerah sekitar Rp 250 juta, sedangkan jumlah warga yang terancam 2.500 jiwa. Koordinator Jatam Siti Maimunah menyatakan, kejadian itu memprihatinkan. ”Semestinya pemerintah daerah berani menghentikan dan memaksa perusahaan mereklamasi kawasan,” katanya. (*/GSA)

Sumber: Kompas, 27 Maret 2009


Responses

  1. saya bisa bantu untuk menanggapi n menangani masalah ini…………
    potensi alam suatu daerah harus dijaga n di lestarikan……….karena itu adalah aset daerah yg bernilai walaupun nilainya belum dapat langsung dirasakan dan ditentukan.baik dari segi materil dan fungsinya sebagai plasma nutfah……..apalagi CAGAR ALAM……….

    saya lulusan teknik dan manajemen lingkungan program diploma IPB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: