Posted by: Hendra Siry | 19 December, 2008

Catatan Kilas Balik Dua Dekade Ilmu Kelautan Unri

Guratan ini saya tulis di milis Alumni Ilmu Kelautan Universitas Riau (IK Unri) awal bulan lalu bertepatan dengan rencana acara Peringatan 2 Dekade IK UNRI sekaligus syukuran dan pembentukan Ikatan Alumni IK UNRI yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 20 Desember 2008 di Hotel IBIS Pekanbaru, Riau.

=================================================

Sayang sekali, ingin rasanya saya berkontribusi banyak dalam peringatan dua dekade PS-IK Unri, namun rentang geografis yang memisahkan saya dengan Pekanbaru memusykilkan asa saya tersebut. Izinkan saya sedikit menorehkan kilas balik pengalaman saya menimba ilmu di PS-IK.

Tanpa terasa telah 17 tahun berlalu ketika pertama saya merantau di kota bertuah, Pekanbaru. Awalnya saya meyakinkan diri bahwa saya harus mengulang lagi UMPTN untuk bisa ikut menjadi bagian dari mahasiswa pengikut sumpah Socrates (Fakultas Kedokteran). Saya terus berupaya agar bisa mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di fakultas yang banyak jadi incaran anak sekolah selepas SMA. Alhamdulillah, saya tidak lulus UMPTN ulangan tersebut dan saya “tersesat di jalan benar“. Butuh waktu 3 semester bagi saya agar studi di Ilmu Kelautan merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar lagi (yang juga pertimbangan almarhumah Ibunda saya) serta menjadi medan laga dan kawah cakradimuka bagi saya dalam menempa diri dan menyiapkan untuk bertarung di masa depan.

Kalau pun bisa dianalogikan dengan Lasykar Pelangi, mungkin sebagian besar perjalanan kehidupan akademis saya banyak diwarnai onak dan duri serta keterbatasan akan keinginan besar menghirup dan menyerap segenap tetesan dari ladang ilmu pengetahauan kelautan. Pada masa kuliah (1991 – 1996), banyak keterbatasan yang saya hadapi. Biaya kuliah dan hidup di Pekanbaru merupakan masalah klasik yang mendera saya setiap semester. Dengan mengandalkan penghasilan almarhumah Ibunda saya sebagai guru SMP ditambah beban biaya sekolah kakak-kakak dan adik-adik saya, rasanya putus kuliah di tengah jalan selalu menghantui saya. Apatah lagi, apa yang harus saya lakukan setelah tamat kuliah nanti. Kelautan masih jauh dari wacana umum, yang berimbas sempitnya lapangan kerja di bidang kelautan.

Keterbatasan akan akses informasi dan narasumber yang bisa jadi panutan dalam menyerap ilmu pengetahuan adalah hal lain yang harus saya tempuh sebagai bagian pionir dari program studi baru. Saat itu, dosen pengasuh banyak yang berangkat sekolah melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di bidang kelautan agar bisa nantinya selepas sekolah berkiprah menggenjot kami untuk lebih cepat dan tepat memahami masalah kelautan serta berupaya berkontribusi memberikan solusi. Kami sering seakan seperti anak ayam kehilangan induk yang dilepas di belantara hiruk pikuk pengetahuan. Saya mesti pintar-pintar mengakali kesenjangan ini.

Alhamdulillah, berbekal sedikit kemampuan bahasa Inggris dan minat korespondensi yang tinggi, kendala tersebut bisa terlewati. Saya menghubungi lembaga-lembaga kelautan seluruh dunia serta para pakar bidang kelautan untuk meminta bantuan literatur serta berlangganan media publikasi yang mereka terbitkan. Dalam kurun waktu setahun, saya bahkan memiliki koleksi referensi yang lebih dari cukup untuk mahasiswa S1 dan referensi tersebut alhamdulillah bisa menolong kawan-kawan serta saya sendiri akan kesulitan bahan bacaan untuk pengerjaan makalah. Referensi tersebut pun membantu saya menikmati akan indahnya dunia kelautan. Dalam berbagai kesempatan, jerih payah saya membantu kawan-kawan yang membutuhkan literatur dihargai dengan sedikit pengganti uang fotokopi dan biaya penelusuran, yang hasilnya saya bisa sedikit berlega menikmati “kemewahan” santap siang di rumah makan terminal Sukajadi (yang sepiringnya Rp.750 dan langganan supir angkot serta bukan rumah makan mewah).

Sebagai bagian pionir PS-IK, saya dan kawan-kawan seangkatan juga sempat merasakan cipratan Marine Science Education Project, sebuah proyek  Depdikbud (waktu itu) untuk mendukung pengembangan program studi Ilmu Kelautan di enam universitas di Indonesia. Kunjungan kerja lapangan (KKL) yang merupakan mata kuliah wajib banyak dibantu oleh MSEP-LPIU Unri. Bahkan angkatan IK pertama (88) bisa “cuci tangan pakai Fanta atau bir”. Saya juga ikut dalam pelayaran riset Sandipati Bahari di Teluk Bone yang didanai oleh MSEP.

Dinamika berorganisasi juga menempa saya untuk lebih siap menghadapi peluang dan masa depan yang belum jelas sebagaimana belum jelasnya kelautan di wacana umum. Saya sempat dipercaya oleh kawan-kawan memegang tampuk perdana HIMA-IK, yang merupakan transformasi HMJ PS IK dan perhimpunan mahasiswa IK (waduh saya sudah lupa singkatannya). Dua wadah ini sempat saling gontok-gontokan dan akhirnya diputuskan untuk lebur menjadi HIMA-IK. Blessmiyanda (88), Sukendi (88), alm Fajar Ariwibowo (88), Dicki Hartanto (89), Andreas Dipi Patria (90) dan Syofyan Hasan (91) ikut memberikan dorongan moral bagi saya untuk memegang tampuk HIMA-IK dan merintisnya menjadi organisasi kemahasiswaan yang lebih bercorak. Riak gelombang berorganisasi adalah hal yang kerap saya alami. Lumrah dalam kehidupan berorganisasi: banyak yang suka banyak pula yang tak suka. Namun itu semua saya anggap sebagai bagian pembelajaran penting bagi saya bagaimana berinteraksi dengan berbagai pihak, kepentingan dan persepsi.

Berbekal tiga hal di atas (kemampuan bahasa Inggris, referensi dan pengalaman berorganisasi) ini pula yang mengantarkan saya menjadi duta Unri untuk pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional tahun 1995. Saya  diundang ke Jakarta untuk ikut merayakan Ulang tahun Emas Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara, serta berinteraksi dengan duta-duta mahasiswa berprestasi lainnya. Inilah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang. Ketika itu saya harus naik Sempati yang punya tiket diskon untuk mahasiswa dengan IPK lebih dari 3. Juga, karena semua urusan tiket harus ditanggulangi dulu. Tidak ada bantuan dari Unri.

Alhamdulillah, saya juga menemukan jodoh saya, duta dari Universitas Andalas, Padang (yang telah mempersembahkan dua buah hati kami) di ajang ini, karena prestasi asmara ataupun daya tebar pesona saya untuk seantero Faperika saja kalah pamor dan tidak sehebat kawan-kawan yang sudah mahfum dengan para cik adek Pekanbaru. Mungkin untuk hal ini saya seharusnya dulu berguru ke Dipi (90). Yang lebih penting lagi saya tidak punya “pelet Jepang” alias kendaraan bermotor. Baru setelah saya pulang mewakili Unri, ada beberapa “cik adek cek abang sayang” yang mulai tertarik dan melirik. Itupun hanya sebatas lirikan, tak lebih tak kurang, yang berujung pada komentar karib saya, Abas Junaidi Hasan (91) dan Alfi Fahmi (91): “alah tu, mandikanlah badan tu jo kasiak tujuah muaro, sisiak bana nan tak elok (terjemahannya: cukup sudah, kamu harus mandi dengan ramuan pasir dari tujuh muara untuk membuang sial)”. Dalam hati saya, sialan nih kawan bukannya bantu, malah nolongin saya kejebur ke jurang.

Selepas dari PS IK Unri, saya mendapat kabar gembira bahwa saya lulus untuk program pertukaran pemuda Indonesia-Australia. Hati saya berbelah bagi, karena pada saat yang sama ada kesempatan kursus ICZPM di Bogor serta peluang menjadi PNS di Ditjen Bangda. Atas hasil diskusi saya dengan almarhumah Ibunda saya, akhirnya saya mesti memutuskan bahwa ke Jakarta lah jalan yang harus saya tempuh. Hal ini berarti kesempatan untuk pergi ke luar negeri yang baru pertama kalinya bagi saya mesti saya relakan kepada calon pengganti saya, Slamet  dari FKIP. Masih terngiang di telinga saya, bagaimana almarhumah Ibunda saya memberikan pencerahan dan pandangan atas dilema yang saya hadapi dan menyerahkan pada saya sepenuhnya untuk memutuskan yang terbaik. Alhamdulillah, jalan yang saya pilih dan tempuh tidak membuat saya menyesalinya.

Sebagai lulusan dari “universitas sayup-sayup tak sampai” (kata atasan langsung saya), saya mesti melakukan upaya dua bahkan lebih kali lipat untuk bersaing dengan kawan-kawan lainnya di Ditjen Bangda, Depdagri, Jakarta. Tekad saya, saya harus membuktikan bahwa tempat pendidikan tidak selalu berkorelasi positif dengan kualitas lulusan. Apakah saya sudah membuktikannya? Saya sendiri bukan dalam kapasitas untuk mengukur diri, namun hasil penilaian atasan dari atasan langsung saya lebih banyak baiknya. Dan ketika saya berseloroh, “pak, saya kan cuma dari Unri”, beliau malah “membentak” saya dengan ucapan “bagi saya bukan lulusan yang jadi patokan, namun kinerja. Meski tamatan dari ITB sekalipun kalau prestasi jeblok, jya ndak ada artinya bagi saya”. Ditjen Bangda juga merupakan kawah candradimuka bagi saya dalam memahami, menyelami dan berinteraksi dengan dunia birokrasi. Selama di Ditjen Bangda saya tidak melupakan identitas diri saya sebagai lulusan PS IK Unri dengan ragam tantangan dan cobaannya.

Saya berharap rentang waktu dua dekade ini akan lebih memberi andil bagi Ilmu Kelautan Unri dan alumninya untuk berkiprah lebih berarti. Akhirul kata, mohon dibukakan pintu maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan kilas balik perjalanan saya ini.


Responses

  1. Sungguh mantap kilas balik adikku ini jauh berbeda dengan abangmu (IK 88) yang bertolak belakang dari Jurusan Ilmu Kelautan, Abang mu sekarang kerja sebagai Auditor di perusahaan swasta PT.FFI, Tbk Jakarta dan sekarang lagi penempatan di Bandung. Maaf kemarin di Ultah ke 20 IK abangmu tdk bisa ikut serta temu alumni. Walaupun demikian sebagai alumni abangmu tetap berharap semoga potensi perikanan khususnya kelautan dapat digali dan dikembangkan untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Bravo “jalas veva jayamahe”.
    NB: Jangan lupa kirimkan dokumentasi Ultah IK 20 seperti yg pernah dijanjikan oleh panitia. Alamat koresponden abangmu:
    Hendri SPI
    Internal Control Dept
    PT. Fast Food Indonesia, Tbk (KFC)
    Jl. Pajajaran No. 65 Bandung
    HP. 08129004924

  2. Salam Kenal Buat abg2 alumni IK smua, acara 2 dekade bulan kemaren memang sangat bagus dan punya nilai momentum buat kemajuan Ilmu Kelautan UNRI. Ya kita berharap n berdoa smoga kedepannya IK UNRI smakin maju n terjalin hub anatara senior dgn junior.

    THANKS buat B’Hendri n B’Hendra

    Klik blog Gue….:)

  3. Ass.Wbr
    Syukur alhamdulillah alumni faperika unri banyak juga yang kerja di DKP pusat. semoga dapat memajukan dunia perikanan (di riau khususnya).
    Mohon info, apa sudah ada maillist faperika unri?

    salam

  4. sukses y buat hendra, sy ingat dulu kita pernah ketemu di bangda utk suatu urusan, mudah2an bisa terus berkarya, terus terang sj sy bangga klo ketemu teman2 spt hendri & wife,kendi dkp, pak doktor…(sy lupa namanya,tp dia ank 91 ahli marine polution dr perancis) yg kebetulan jd teman diskusi waktu sy menangani pencemaran laut akibat minyak dsb
    sy setuju dg anda bahwa alumni ik unri cukup lumayan tuh kalau diadu, sy alami sendiri waktu kuliah pasca sarjana di ui bersaing dg teman2 dr berbagai univ ternama nggak ketinggalan. begitu jg waktu test cpns pemda dki bersaing dg 13.000 pelamar & sampai hr inidr 70.000 pns dki cuman sy yg ilmu kelautan (dr unri lho) nggak ada satupun dr universitas lain yg penyelenggara prog studi ilmu kelautan. walau awal pekj sy sempat bingung ditempatkan dimana,shg sy ngurus budidaya sampai ikut kursus di jepang. skrg sdh nggak ngurus laut lg,malah ngurus manajemen keu& aset brg daerah. yg penting sy sarankan agar kembangkan iklim akademis 7g sehat,& hrp sy agar para dosen rajin nulis di media agar kelihatan bobotnya ky mas rochmin dahuri yg jd dirjen pd usia 38 th krn rajin nulis di koran. sukses y buat semua

  5. ass.wrwb…

    sukses slalu buat abang ya.moga apa yang bang harapkan tercapai,kenal kan dari adik mu ini,nama koni,,angkatan 07,,Ik unri..mendengar cerita abang sungguh luar biasa walau berliku tapi berujung dengan indah..
    mudah2an kami para penerus tombak ik unri mampu eksis seperti abang dahulu,,mohon doa y..

  6. wow….baru x jumpa blog alumni iK bagh senang x awak

    Sukses polak tuch orngnya

    Jalas Veva

  7. Salam Suksesss Wak….
    Sekian lama melanglang buana akhirnya … ketemu juga. Mr. Boy….itulah panggilan yg sering saya ucapkan kalau kita bertemu sekitar 17 tahun silam. Rasa haru dan Bangga selalu tersirat dalam sanubari ini disaat mengetahui sudah sekian banyak rekan rekan yang sudah sukses. Ukuran sukses emang relatif wak….tapi kita sudah sukses jadi diri kita sendiri….. terakhir kita pernah bertemu di Bogor kalau tak salah di sekitar EKALOKASARI tahun 2005.
    Mr. Boy…saya sekarang sudah pindah ke Kabupaten Kepulauan Anambas sebelumnya di Natuna.
    Salam Buat Keluarga…

    Wakyus

  8. saya alumni unri angkatan 95 FKE AKuntansi, sekarang di Depkeu….sering ke bangda…juga bagi-bagi infolah buat kemajuan UNRI….

    Syaiful

  9. wah,,keren,,pernah jadi mawapres….

  10. Senang rasanya … bisa berjumpa dengan kaknda alumni Ilmu kelautan universitas Riau… walaupun kita Tidak pernah bertemu muka…tapi jadilah tau dengan alumni melalui foto-foto kenangan…dan sedikit tau alumni pas waktu acara dua dekade Ilmu kelautan Universitas Riau….

    Untuk lebih menghangatkan hubuangan emosional antara adek2 dan kakanda-kakanda… kita sharing di web alumni…Ikalunri.org…… Di Facebook. n media-media lainnya…

    semoga sukses selalu…

    jales vevva….Jaya mahe..

    Harri Pranata
    Ilmu kelautan universitas riau
    Angkatan 2004..

  11. […] Sumber : https://hendrasiry.wordpress.com […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: