Posted by: Hendra Siry | 23 October, 2008

Novi dan Dunia Bawah Air

Sebuah artikel oleh John Nikita S.

Pontianak (ANTARA News) – “Arusnya kuat. Jadi kita ke tepi?” kata Novi seraya melempar senyum kepada dua kenalan barunya, seorang wartawati sebuah harian terbitan Pontianak, seorang lagi anak pemilik perahu bermotor yang mengantarkan kelompok peduli lingkungan hidup, Inhaza ke perairan pantai Pulau Temajo.

Mereka bertiga berenang sambil bercanda di dekat perahu. Saat arus kuat datang, masing-masing sigap menangkap tali tambang di sisi badan perahu, agar tidak terseret.

Sore itu, Jumat (17/10), cuaca di perairan sekitar 100 meter lepas pantai Pulau Temajo cukup bersahabat. Cahaya matahari terasa hangat di kulit, tidak menyengat seperti biasa.

Novi Priyanti, nama lengkapnya, berada di sana bersama tiga penyelam dari kelompok peduli lingkungan, Inhaza. Tim yang dikontrak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat ini hendak memeriksa terumbu karang buatan, yang dipasang beberapa tahun lalu.

Terumbu karang buatan terbuat dari batangan beton ukuran sekira 6×6 centimeter. Batangan itu disusun hingga membentuk piramid-piramid kecil dan diletakkan di dasar laut untuk memancing tumbuhnya ekosistem baru di perairan yang rusak akibat terjangan arus air maupun ulah nelayan pemakai bom potasium.

Untuk membangun ekosistem baru, diperlukan tenaga-tenaga penyelam tradisional maupun profesional, seperti dari kelompok Inhaza.

Kelahiran Sambas 19 Nopember 1985, Novi memang bukan penyelam biasa.

Sarjana Perikanan dari Universitas Muhammadyah Pontianak ini adalah atlet selam Kalimantan Barat, yang pernah dikirim ke Pulau Seribu untuk mengikuti tahapan Pra PON 2007 tahun lalu

“Waktu itu saya gagal, karena terbentur skripsi,” katanya.

Tahun ini pun ia absen di PON Daerah, karena terikat kontrak kerja selama sembilan bulan, sejak Maret lalu.

Harapan mengikuti ajang pengukur prestasinya di dunia molo (menyelam) pada POD maupun PON tahun depan, juga tergantung masalah kontrak kerjanya. Bila berlanjut, hampir dapat dipastikan ia tidak bisa ikut lagi.

“Habis bagaimana? Kalau bicara keinginan sih, aku maulah,” katanya dalam logat Melayu yang kental.

“Cukup Beruntung”

Bekerja sebagai penyelam kontrak tampaknya pilihan terbaik bagi Novi saat ini. Selain umur sudah cukup dewasa, ia ingin meringankan beban orang tuanya yang masih harus memikul biaya pendidikan kedua adiknya, Ari Setiawan (19) yang baru mau mendaftar ke Akademi Perhotelan, dan Septi Triyanti (11) yang kini duduk di bangku kelas 6 SD.

Ayah Novi, Malikul Kudus adalah seorang petani, sementara ibunya, Nurida, seorang guru negeri sebuah sekolah dasar. Meskipun demikian, kehidupan keluarga ini terbilang cukup, apalagi si putri sulung sudah berhasil meraih gelar sarjana dan bisa cari uang sendiri.

“Sekarang aku belanja semua kebutuhan pakai uang sendiri, dan sesekali bisa menyenangkan adik-adikku,” kata Novi.

Pekerjaan yang sekarang digelutinya pun tidak terlalu sulit diperoleh. Potensi sebagai atlet yang sempat masuk Pra PON membuat Inhaza tidak ragu merekrutnya.

Sampai saat ini Novi masih tinggal bersama orang tuanya di Dusun Sadayan, salah satu kampung di wilayah Desa Tangaran, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas.

Dusun tempat tinggalnya itu bisa dicapai dengan bus selama 5-6 jam, dari Kota Pontianak ke Kertasari, Sambas, diteruskan naik ojek atau oplet ke Tanjung Harapan, lalu menyeberang sungai selebar 400 meter dengan perahu bermotor ke Sekura.

Selainjutnya, perjalanan diteruskan melalui darat sejauh sembilan kilometer untuk mencapai Dusun Sadayan.

Penduduk di kampung Novi berjumlah sekitar 350 KK, kebanyakan hidup bertani atau berladang. Sekalipun ada yang PNS (pegawai negeri sipil), mereka juga bertani untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Menurut Novi, generasi muda di kampungnya jarang yang bersekolah karena tidak ada biaya. Mereka umumnya membantu orang tua bekerja di sawah atau berkebun, selain beberapa yang berhenti sekolah karena terpengaruh teman.

Karena itu, Novi mengaku nasibnya cukup beruntung, kedua orang tuanya mampu membiaya dirinya hingga lulus perguruan tinggi.

“Teman-teman sebayaku, kalau tidak ke sawah atau ladang, umunya menjadi TKI di Serawak,” katanya.

“Suka Bercanda”

Berbincang dengan Novi cukup mengasyikkan. Ramah, cepat akrab dengan orang lain bahkan yang baru dikenal adalah sifatnya. Ia juga memiliki “sense of humor”.

Novi mengaku mulai tertarik pada dunia bawah air tahun 2004, setelah untuk pertama kali menyaksikan tayangan di televisi tentang dunia “diving”.

Begitu mempesona tayangan itu baginya, terutama kegiatan menyelam dan kehidupan mahluk di dalam laut..Keindahan itu pun terus menggayut di dalam benaknya.

Sejak melihat tayangan itu, ia terus berpikir dan ingin sekali dapat merasakan bagaimana menyelam sambil melihat-lihat keindahan taman laut, khususnya terumbu karang, juga bercengkerama dengan berbagai jenis ikan ataupun penghuni laut lainnya..

“Sekali menyelam, aku suka berlam-lama, dan pasti mencari Anemon. Itu loh, sejenis terumbu karang, tapi sangat lembut dan paling disukai ikan nemo,” katanya.

Sayang, dalam misi pemasangan terumbu karang buatan di perairan lepas pantai Pulau Temajo Novi tak sempat mencari dan bercanda dengan teman-temannya itu.

Selain arus sedang kuat, rekan-rekannya sesama penyelam dari Inhaza tidak berhasil menemukan koordinat tempat mereka memasang 105 unit piramid “artificial coral” beberapa tahun lalu.

“Aku disuruh menunggu. Kalau sudah ketemu, baru ikut menyelam,” katanya.

Meski demikian, berenang ke tepi pantai pasir putih di pesisir pulau cukup menghibur hatinya.

Perairan di pantai pulau itu sendiri terhitung dangkal. Di lokasi perahu melego jangkar, kedalaman hanya berkisar antara 5-7 meter, seperti terlihat pada “fish finder” (alat pendeteksi ikan dan pengukur kedalaman) yang dipasang di buritan.

Aiir laut di sekitar Pulau Temajo berwarna kecoklatan karena bercampur dengan air dari banyak sungai yang mengalir dari daratan utama Kalimantan Barat, di antaranya Sungai Mempawah, Sungai Kunyit, Sungai Duri, dan Sungai Pangkalan.

Kondisi itu membuat orang yang tidak terbiasa akan merasa sungkan untuk berenang..

“Ada loh, orang yang sudah repot-repot beli celana pendek di Mempawah, tapi sampai di sini tak turun-turun (-ke air),” kata Novi sambil melirikan matanya ke seorang wartawan, yang memilih tetap berada di atas perahu.

Berulang kali ia mencoba mengajak si wartawan untuk berenang ke tepi pantai menggunakan pelampung, berulang kali pula yang diajaknya bicara hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

Lain lagi komentar Novi pada seorang wartawan yang muntah-muntah akibat mabuk laut dan akhirnya hanya duduk bersandar di dinding luar kamar perahu.

“Wah, sampai sesore ini kita ndak ketemu makanan, eh ada yang kasih makan ikan secara gratis. Bukan main baiknya hati kawan kita ni” katanya.

Keruan saja ucapan itu membuat anggota rombongan yang lain tertawa terbahak-bahak.

Selain Novi dan tiga penyelam dari Inhaza, ikut dalam misi ke Pulau Temajo empat wartawan dari media berlainan.

Ingin Menjadi Presenter

Suka dunia bawah air bukan lantas berarti Novi tak punya cita-cita lain.

Menjadi kepala dinas kelautan dan perairan adalah jawaban pertama yang terlontar dari mulutnya, ketika ditanyakan tentang cita-cita.

“Aku tak mau muluk-muluklah. Jadi kepala dinas sudah besar itu,” katanya sambil tertawa lepas.

Ia juga yakin pengalamannya bergaul dengan alam bawah air akan bermanfaat.untuk menjalani profesi “non kantoran”.

Seandainya ada tawaran menjadi presenter acara petualangan di televisi, misalnya, ia mengaku bakal menyambut tanpa pikir panjang.

Namun, saat ini ia hanya punya keinginan menyelamatkan ekosistem laut demi kesejahteraan nelayan.

Novi beralasan, ekosistem laut yang terjaga baik akan memberikan dampak sangat positif, apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang melimpah hasil lautnya.

“Cita-cita nv (Novi) ingin melestarikan n (dan) menjaga kehidupan dunia bwh (bawah) air terutama terumbu karang sbg (sebagai) tempat hidup ikan agar nelayan dpt (dapat) hidup sejahtera dg (dengan) hasil ikan yg (yang) melimpah,” begitu isi pesan singkat (sms)-nya..

Bila ada tawaran main film atau sinetron, bagaimana Vi?

“Boleh, asal berhubungan dengan dunia bawah air. Pokoknya aku tak mau terlepas dari duniaku,” jawabnya.

Selama bergabung dengan Inhaza, Novi sudah menyelam di empat tempat, yakni di perairan Pulau Randayan, Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan yang terakhir di Pulau Temajo.

Selain itu, ia juga suka ditugaskan memberi penyuluhan tentang cara menyelam yang baik dan aman.

Belum lama ini, ia pernah dikirim ke perbatasan Sambas-Serawak untuk memberikan penyuluhan, menyusul tragedi tewasnya seorang penyelam tradisional di daerah itu..

Dari insiden itu, pekerjaan Novi jelas bukan tanpa risiko maut. Namun, ia mengaku tidak takut dan akan terus menyelam demi kecintaannya pada dunia bawah air.

Lebih dari itu, ia banyak mendapat kesempatan menyalurkan hobi menyelam, memelihara terumbu karang dan, tentu saja, bermain dengan ikan nemo.
(*)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: