Posted by: Hendra Siry | 21 October, 2008

Segitiga Terumbu Karang: Berkutat Menjaga 1,6 Persen Kekayaan Laut Dunia

Pada Konvensi Biodiversitas 2006 di Curitiba, Brasil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengantarkan gagasan pentingnya keberadaan segitiga terumbu karang atau coral triangle bagi dunia, yang mencakup wilayah enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Kini, menjelang Konferensi Kelautan Dunia (The World Ocean Conference), yang juga akan mengusung pertemuan puncak Coral Triangle Summit di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei 2009 nanti, Indonesia masih berkutat menentukan rencana aksinya.

”Rencana aksi itu berupa penelitian-penelitian di kawasan segitiga terumbu karang,” ujar Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil pada Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Syamsul Maarif.

Berbagai persoalan kini harus dihadapi di sekitar segitiga terumbu karang itu. Misalnya, soal parahnya kerusakan terumbu karang, rusaknya tanaman bakau, maraknya penangkapan ikan ilegal dengan pengeboman, serta over fishing atau penangkapan ikan yang mengabaikan sistem keberlanjutan.

Draf Honiara

Ketika semua pihak ingin melakukan penelitian intensif, ini menunjukkan begitu lambannya kinerja Pemerintah Indonesia untuk berpartisipasi menyelamatkan kawasan segitiga terumbu karang seluas 1,6 persen lautan di planet ini. Pengumpulan data dari berbagai penelitian sebelumnya tak pernah diupayakan. ”Penelitian oleh Indonesia sering dilakukan.

Kesulitan yang terjadi sampai sekarang pada tingkat pemanfaatannya, karena kendala pada koordinasi dan dokumentasi,” ujar Ketua Dewan Riset Nasional Andrianto.

Di dalam pertemuan Coral Triangle Initiative (CTI) Coordination Committee Meeting kedua di Honiara, Negara Kepulauan Solomon, 8-10 September 2009, dihasilkan kesepakatan berupa Draf Honiara. Dinyatakan di dalamnya, kawasan segitiga terumbu karang seluas 75.000 kilometer persegi yang mencakup 1,6 persen wilayah lautan di dunia itu menjadi pusat keanekaragaman hayati kelautan terkaya dunia. Di antaranya terdapat 76 persen spesies terumbu karang yang dikenal di dunia, 37 persen spesies ikan karang, dan sebesar 33 persen menjadi kawasan terumbu karang yang tumbuh di dunia.

Selebihnya, kawasan segitiga terumbu karang menjadi kawasan paling luas untuk hutan bakau dan menjadi area yang terluas di dunia untuk perkembangbiakan berbagai jenis ikan, termasuk komoditas utama dunia, yaitu tuna.

Perkiraan-perkiraan manfaat ekonomi kawasan segitiga terumbu karang sudah dinyatakan pula. Saat ini, setidaknya 363 juta penduduk dari enam negara yang menaunginya menerima keuntungan.

Setidaknya, lebih dari 120 juta penduduk tinggal di pesisir pantai hidup dari sumber daya alam kawasan segitiga terumbu karang. Nilai ekonomi yang bisa diraih per tahunnya mencapai 2,3 miliar dollar AS atau Rp 21 triliun lebih.

Selain itu, keberadaan terumbu karang dan bakau di pesisir kawasan segitiga terumbu karang mampu melindungi penduduk dari ancaman tsunami atau pengikisan pantai.

Pada bagian berikutnya, di dalam Draf Honiara dinyatakan, lebih dari 80 persen terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang dalam kondisi terganggu.

Semua harus dilibatkan

Yaya Mulyana dari Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut pada Departemen Perikanan dan Kelautan mengatakan, rencana aksi Indonesia diarahkan untuk membuktikan secara ilmiah bahwa segitiga terumbu karang itu menjadi pusat perkembangbiakan dan pertumbuhan ikan tuna, paus, serta penyu yang memberi manfaat bagi hampir seluruh negara di dunia.

”Dengan demikian, negara-negara di dunia harus dilibatkan melindungi kawasan ini,” ujar Yaya.  Di dalam pertemuan International Coral Reef Initiative (ICRI) di Washington, Amerika Serikat, 22-24 Januari 2008, CTI yang disuarakan Indonesia ke dalam berbagai forum internasional sudah diakui menjadi rencana program penyelamatan lingkungan kelautan yang lebih besar dari Micronesian Challenge, Carribean Initiative, atau South Asian Reef Management.

Indonesia lalu diminta agar aktif di lembaga ICRI itu. Selanjutnya, Indonesia juga diminta memasukkan programnya terkait dengan konservasi dan preservasi kawasan segitiga terumbu karang ke dalam International Year of Coral Reef 2008 (IYOR’08). Manakala masukan ICRI agar Indonesia memasukkan berbagai program ke dalam IYOR’08 ini, semestinya membuat rencana aksi Indonesia untuk segitiga terumbu karang sudah harus lebih jelas sejak jauh hari sebelumnya. (NAW)

Sumber: Kompas, 21 Oktober 2008


Responses

  1. sudah saatnya pemerintah, peneliti dan pihak terkait untik segera merealisasikan program-program emasnya demi lestarinya ekosistem terumbu karang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: