Posted by: Hendra Siry | 21 August, 2008

Udang Tak Lagi di Balik Batu

TEMPO Interaktif, CIBINONG : Coba tanya kepada Fauzan Ali tentang tip memelihara atau merawat hewan peliharaan. Jawabannya sederhana: pakai hati. Itu sebabnya ia membuatkan apartemen untuk udang-udangnya. “Apartemen menambah prestise,” kata Fauzan.

Ini memang bukan apartemen sungguhan yang menjulang mencakar awan. Apartemen udang galah kreasi Fauzan, ahli fisiologi budidaya perairan di Pusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ini hanyalah konstruksi dari belahan-belahan bambu yang ditanam di kolam udang. Hampir seluruh luas kolam atau 80 persen luasnya diisi dengan apartemen bambu itu.

Tujuannya cuma satu: menambah kepadatan populasi udang di tiap kolam yang selama ini selalu “mentok” hanya 10 ekor per meter persegi. Lebih dari tujuh tahun lalu, Fauzan penasaran kenapa upaya para petani udang yang ingin mengatrol produksi dengan cara memperbanyak jumlah udang galah yang dipelihara di tiap kolam selalu berujung sia-sia.

“Dibuat sebagus apa pun kolamnya, sebaik apa pun kualitas airnya, dan sebanyak apa pun pemberian pakannya, tetap saja kepadatan udang hanya 10 ekor per meter persegi,” tutur Fauzan. Dengan angka itu, produksi rata-rata yang didapat praktis hanya satu-dua ton per hektare atau 200 kilogram tiap seribu meter persegi.

Udang memang berbeda dengan bangsa ikan umumnya. Ia tidak memiliki sirip, tapi hanya mempunyai kaki untuk berenang. Udang tidak bisa berenang bebas tapi hanya hidup terbatas di dasar kolam ataupun dinding. Itu sebabnya kepadatan udang, seberapa pun dalamnya kolam yang dibuat, sangat terbatas.

Tapi, Fauzan terus berpikir tentang cara agar kolom air di atas punggung udang juga bisa dimanfaatkan. Pikiran itulah yang selalu ada dalam benaknya. Pikiran itu muncul gara-garanya ia melihat praktek petani yang memberikan dedaunan dan ranting-ranting bambu di permukaan kolam berisi udang belia atau pascalarva. Fauzan mencermati fenomena udang yang bisa “hinggap” di sana.

Padahal, Seperti yang diungkap Gunawan, Kepala Laboratorium Produktivitas Perairan Darat di pusat penelitian yang sama, tujuan si petani mungkin sekadar memenuhi persepsi “udang di balik batu”. Selain itu juga untuk mengurangi beban terik dari matahari dan melindungi udang dari pencurian menggunakan jala.

“Mereka tidak pernah memperhatikan kalau udang-udang yang bertengger di dekat permukaan air itu justru merasa nyaman karena bisa melakukan prosesi ganti kulit (molting) tanpa perlu merasa terancam,” tutur Gunawan. “Kalau nyaman, udang bisa ganti kulit terus dan cepat besar,” Gunawan menambahkan.

***

Saat itu 2001, dan begitulah ide membuat apartemen udang muncul di benak Fauzan. Ia dan Gunawan lalu mulai berkreasi. Tentu saja tidak langsung berhasil. Selain dengan ranting dan dedaunan, awalnya mereka juga berkreasi dengan menggunakan pelepah serta daun pisang. Tapi mereka lalu sadar bahwa hasil kreasinya itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

“Kolam menjadi malah kotor dan mengundang ular bersarang,” ujar Fauzan. “Selain itu, arus dalam kolam juga terhambat dan kandungan oksigen terlarutnya turun sehingga udang mudah mati,” Fauzan menambahkan.

Butuh dua tahun hingga akhirnya Fauzan–yang termasuk dalam 100 inovator terpilih pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2008 lalu–menemukan ide apartemen berbahan bambu itu.

Kini, Fauzan bahkan sudah memiliki formulasi paling pas: apartemen seluas satu meter persegi yang setiap kamarnya berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm dan diisi dengan 30 ekor udang. “Ini kerapatan yang paling optimal,” tutur Fauzan.

Menurut Fauzan, tanpa apartemen, dari 30 ekor udang yang ditebar, sebulan kemudian yang tersisa hanya separuhnya. “Tapi dengan apartemen, 30 ekor udang itu aman-aman saja,” kata dia.

Selain terbukti membuat pertumbuhan udang lebih cepat karena ruang hidupnya lebih leluasa, udang-udang juga mendapat sumber makanan baru yang alami dari bambu. “Kalau tidak ada udangnya, lumut di bambu ini tebal. Tapi ini bersih,” katanya sambil menunjuk sebuah akuarium di laboratorium kantornya.

Gunawan menambahkan, udang-udang yang hidup di atas bambu otomatis terhindar dari lumpur yang ada di dasar kolam sehingga lebih bersih dan mudah diterima pasar. Dan yang tidak kalah penting adalah udang-udangnya jadi lebih memiliki waktu untuk “bersolek”. “Lihat saja gerakan kakinya udang-udang itu. Mereka sedang membersihkan dirinya sesudah makan,” tutur Fauzan sambil menunjuk seekor udang di atas bilah bambu.

Di kolam-kolam uji cobanya, Fauzan dan Gunawan menyaksikan bahwa pemberian apartemen pada akhirnya bisa melipattigakan produksi di saat panen menjadi 6-9 ton tiap hektare. “Ini jelas sangat menguntungkan,” kata mereka sambil menambahkan bahwa metode ini sudah menyebar sampai ke Pulau Belitung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: