Posted by: Hendra Siry | 13 June, 2008

Masyarakat Jangan Terjebak Fenomena Tsunami

Padang (ANTARA News) – Kepala BMG Stasiun Geofisika Padang Panjang, Sumarso mengingatkan masyarakat khususnya bermukim di kawasan pesisir pantai agar tidak terjebak fenomena akan terjadinya gelombang tsunami, yakni surutnya air laut pada batas normal.

Kedatangan tsunami ditandai surutnya air laut pada batas normal dan masyarakat biasanya terjebak karena memperhatikan fenomena itu, kata Soemarso di Padang, Kamis.

Hal tersebut diungkapkannya pada sosialisasi menghadapi ancaman gempa-tsunami bagi aparat sekretariat DPRD Sumbar.

Ia mengatakan, tsunami bisa ditimbulkan gempa besar dengan magnitude Mw tujuh skala richter (SR) ke atas dengan pusat gempa di laut pada kedalaman dangkal di bawah 40 kilometer dan terjadi deformasi vertikal dasar laut.

Ia menyebutkan, karakteristik tsunami adalah kecepatan gelombang yang tergantung pada kedalaman air laut pada pusat terjadinya gangguan seismic.

Menurut dia, kecepatan gelombang tsunami bisa mencapai 900 kilometer/jam (560 mile/jam) dan terus melambat sampai sekitar 50 kilometer/jam (31 mile/jam) saat mencapai pantai.

Kecepatan penjalaran gelombang itu pada dasar laut dangkal akan lebih lambat dibandingkan pada dasar laut dalam yang membuat gelombang tsunami, katanya.

Ia menjelaskan, kecepatan gelombang tsunami 900 kilometer/jam terjadi pada laut dengan kedalaman 5.000 meter dan melambat menjadi 250 kilometer/jam saat menjapai laut dengan kedalaman 500 meter.

Kecepatan akan terus berkurang menjadi 100 kilometer per jam saat gelombang tsunami berada pada laut dengan kedalaman 100 meter dan turun lagi menjadi 36 kilometer/jam ketika sampai di laut dengan kedalaman 10 meter.

Sedangkan waktu peringatan tergantung pada jarak dari pusat gempa ke pantai, tambahnya.

Ia menyebutkan, serangan gelombang tsunami itu bervariasi sesuai dengan kecepatannya.

Soemarso menyatakan, tsunami bisa sangat merusak karena ketinggiannya bisa mencapai 30 meter (yang pernah tercatat, red).

Dampak tsunami lainnya, terjadi banjir, kontaminasi air garam di areal pertanian, tanah dan sumber air, struktur dan vegetasi di sepanjang di pantai, tambahnya.(*)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: