Posted by: Hendra Siry | 14 March, 2008

70 Persen Hutan Mangrove Konsel Rusak

Rata-rata 70 persen hutan bakau (mangrove) di delapan wilayah pesisir Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) telah dikonversi. Hijaunya bakau telah berubah menjadi tambak-tambak yang tidak cukup produktif.

“Penting dibuatkan peraturan daerah untuk menjaga kelestarian hutan mangrove,” kata Kepala Seksi Perencanaan dan Keuangan Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatan, Abdul Muis Balubi.

Sebenarnya, ketebalan 100 meter hutan bakau dari laut tidak bisa diganggu gugat. Namun, bedasarkan kenyataan yang ada apabila ada warga yang memiliki tanah di tepi pantai akan mengakui sekaligus dengan lautnya (hutan bakao yang berada di depan lahannya) adalah miliknya.

Tanpa mau mengurangi kepentingan masyarakat, peraturan daerah penting adanya untuk mengatur pengelolaan hutan mangrove lebih ramah. Tanpa mengganggu habitat dan komunitas yang ada di dalamnya. “Bisa menggunakan program pengelolaan hutan mangrove berbasis masyarakat agro silvo forestry,” kata Abdul Muis Balubi.

Dikatakan, bisa saja membuat tambak tapi lebih ramah dan tidak membabat bakau hingga tak tersisa. Ada pembatasan pembukaan lahan bakau. Dalam hutan bakau warga dapat beternak, yakni ternak itik. Itik tersebut dapat memakan-makanan laut yang tidak bernilai ekonomis atau sisa-sisa ikan nelayan yang tidak diambil.

Salain itu, warga juga dapat menangkap habitat (seperti kepiting, ikan, udang, dan lainnya) yang ada dalam hutan bakau. Tentunya dengan ketentuan lebih ramah. Tidak sembarang mengambil, tanpa memikirkan kelangsungan hidup habitat-habitat yang ada.

Apabila hutan bakau terpelihara, tentunya dapat dikelola menjadi wisata bahari. Wisata yang akan menghasilkan visa bagi daerah dan warga setempat tentunya.

Penyebab lain hancurnya hutan mangrove adalah adanya reklamasi pantai, limbah, dan kerusakan hutan, “serta masih kecilnya keberpihakan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan,” aku Abdul Muis Balubi.

Menurut Abdul Muis Balubi, hutan mangrove yang cukup baik adalah hutan mangrove Laonti. Tepatnya di Teluk Lohia hingga Desa Peo Indah. Luasnya kira-kira 20 kilometer persegi. Itupun sudah ada yang disulap menjadi empang, kurang lebih 21 hektare.

Bertahannya hutan mangrove Laonti karena terbatasnya akses menuju wilayah terbatas. Jumlah penduduk sedikit. Sedangkan hutan mangrove di kecamatan lainnya, Kolono, Tinanggea, Palangga Selatan, Palangga, Lainea, dan Moramo telah rusak. CUK/DUL

http://www.kendariekspres.com/news.php?newsid=5055


Responses

  1. sebaiknya pemerintah segera merealisasikan mengatur pengelolaan hutan mangrove lebih ramah. Tanpa mengganggu habitat dan komunitas yang ada di dalamnya. di dalam pelaksanaannya sebaiknya melibatkan LSM yg banyak bergerak di bidang lingkungan… masyarakat juga perlu diberi pengertian mengenai pentingnya mangrove.
    segera dilaksanakan, jangan hanya sekedar analisis teoritis tapi benar-benar realistis


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: