Posted by: Hendra Siry | 7 March, 2008

Nelayan Sumut Tak Melaut Akibat Asap

Ratusan nelayan di Belawan dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut) tidak berani menangkap ikan ke tengah laut. Mereka mengurungkan niatnya mencari nafkah karena jarak pandang di tengah lautan sangat pendek akibat kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.

“Kami sudah tiga hari belakangan ini tidak melaut. Selain karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat, kabut asap merupakan faktor utama penyebab nelayan di kampung ini tidak melaut,” kata Samsul Bahri, nelayan setempat kepada SP, saat ditemui di Perkampungan Nelayan di Belawan, Sumatera Utara, Rabu (27/2) malam.

Kondisi kabut asap di tengah lautan tidak sama dengan di daratan. Dia memastikan kabut yang menyelimuti di tengah lautan merupakan kabut asap. Tidak hanya dirinya, nelayan lain juga mengkhawatirkan keselamatan bila memaksakan diri menangkap ikan di tengah lautan, belakangan ini. “Apalagi pada malam hari, jarak pandang di tengah lautan sangat pendek. Hal yang kita khawatirkan justru kapal menabrak nelayan yang menangkap ikan. Kondisi cuaca saat ini memang tidak memungkinkan untuk menangkap ikan, juga kurang menguntungkan,” kata Herman (50), rekan Samsul Bahri.

Di pinggiran perairan Serdang Bedagai, ratusan kapal nelayan terlihat bersandar di pinggiran dermaga. Para nelayan di daerah itu tidak berani melaut karena kabut asap. Untuk mengatasi keterpurukan perekonomian keluarganya, masyarakat di sana mengalihkan profesi sebagai buruh bangunan. “Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai buruh lepas di pabrik perusahaan, atau di tempat pembuatan batu-bata. Ini sudah biasa kami lakukan bila tidak melaut. Namun, tidak sedikit di antara nelayan di kampung ini yang terjerat utang kepada rentenir, akibat tidak turun menangkap ikan di laut,” ujar Sanusi (46), nelayan di Serdang Bedagai.

Mengingatkan

Sementara itu, Kepala Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Wilayah I Stasiun Bandara Polonia Medan, Firman AMG mengingatkan, masyarakat untuk lebih hati-hati menyusul adanya kabut asap yang menyelimuti daerah ini. Kabut asap tersebut tidak akan ada lagi bila, turun hujan. Dari Padang, Sumatera Barat dilaporkan, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Kota Padang. Kendati demikian, hujan lebat yang melanda Kota Padang dua hari terakhir tampaknya sedikit mengurangi intensitas kabut asap.

Kabut asap yang menyelimuti Kota Padang, juga belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau sebab jarak pandang masih cukup aman, yakni enam kilometer. Kepala Dinas Pelayanan Operasional Lalu Lintas Udara, Alzog P Budhi menyebutkan, cuaca memang agak berkabut, namun hujan beberapa hari terakhir membantu mengurangi kabut asap. Jarak pandang di landasan pacu cukup baik dan tidak mengganggu penerbangan.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Moses Nicodemus mengatakan, dana pengendalian kebakaran hutan dan lahan untuk Provinsi Kalteng bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 15,2 miliar dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tingkat I dan II se-Kalteng sebesar Rp 21,4 miliar. [AHS/BO/106]
Sumber: Suara Pembaruan, 28 Februari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: