Posted by: Hendra Siry | 6 March, 2008

2050, Jakut Tenggelam

Laju pemanasan global yang berlangsung saat ini mengancam kelestarian sejumlah kawasan di Indonesia. Dalam 100 tahun terakhir suhu permukaan bumi naik satu derajat Celsius, dan mengakibatkan naiknya permukaan air laut di seluruh dunia.

Menurut Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Keluatan dan Perikanan Indroyono Susilo kepada SP, di Jakarta, Sabtu (1/3), fenomena tersebut bisa dilihat dengan semakin tingginya intensitas tumpahan air laut ke darat (rob), termasuk banjir besar yang merendam sebagian wilayah di DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Lumpuhnya Bandara Soekarno Hatta, juga tak lepas dari akibat fenomena naiknya muka air laut.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan BRKP, pada tahun 2050, sekitar 25 persen wilayah Jakarta Utara (Jakut) akan tenggelam. Kawasan seperti Ancol, Pantai Indah Kapuk, Koja, dan Tanjung Priok hilang dari peta Indonesia. “Kawasan seluas 160 kilometer persegi atau sekitar 25 persen wilayah Jakarta akan tenggelam secara permanen,” ungkap Indroyono.

Secara kasat mata, lanjutnya, tanda-tanda awal tenggelamnya kawasan itu bisa dilihat dari garis pantai di utara kota yang dulu bernama Batavia ini, sudah berubah. Garis pantai mulai masuk ke daratan akibat proses abrasi (pengikisan daratan oleh air laut). Laju kenaikan muka laut rata-rata 0,57 cm per tahun. Kecepatan naik muka air laut di beberapa wilayah utara Jakarta berbeda-beda.

Tetapi, menurut hasil penelitian tim dari Institut Teknologi Bandung, tren yang muncul menunjukkan kenaikan. Pada 1925, kondisi muka laut di Teluk Jakarta tercatat 51,19 cm. Dalam 25 tahun berikutnya (1950), muka laut bertambah 14,37 cm. Pada 25 tahun selanjutnya (1975), terjadi kenaikan muka laut 14,38 cm. Jumlah kenaikan muka laut Teluk Jakarta setiap 25 tahun berada di kisaran 14,37 cm, atau rata-rata kenaikan per tahun 8 mm. Berdasarkan asumsi tersebut, pada 2050 diperkirakan muka laut di Teluk Jakarta akan mencapai 123,06 cm (1,23 meter).

Indroyono mengingatkan, hasil riset lembaga penelitian internasional dari badan riset Australia yang menyebutkan kenaikan muka laut yang secara berangsur-angsur menunjukkan tren kenaikan, akan mengancam kelangsungan negara kepulauan. Dalam penelitian itu disebutkan, pada 2001, Tuvalu, negara kepulauan di Samudera Pasifik, terpaksa mengungsikan 11.000 warganya akibat kenaikan muka laut. Tuvalu terpaksa menandatangani perjanjian dengan Selandia Baru, agar mau menerima warganya yang terpaksa diungsikan.

Kondisi ini tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi pada 1995-2002, yakni semenanjung Kutub Selatan kehilangan sandaran es seluas 12.500 kilometer persegi, atau setara empat kali lipat luas wilayah Luksemburg. Jika masyarakat Jakarta termasuk pemerintah tidak mengambil langkah-langkah positif, misalnya memperbaiki wilayah pesisir dengan menumbuhkan kembali vegetasi bakau, bukan tidak mungkin sebagian warga Jakarta akan menjadi pengungsi cuaca seperti yang dialami warga Tuvalu.

Sementara itu, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi mengatakan, kondisi Jakarta juga diperparah oleh turunnya permukaan tanah akibat pola pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Rata-rata penurunan muka tanah di Jakarta berkisar 0,87 cm per tahun. Keberadaan gedung-gedung pencakar langit yang menghujam tanah Jakarta perlu dikaji ulang.

Saat ini Jakarta tak ubahnya belantara beton. Berdasarkan penelitian Bloomberg, New York, keberadaan gedung pencakar langit sangat berperan besar dalam meningkatkan emisi karbondioksida (CO2). Setidaknya, 79 persen emisi gas rumah kaca diproduksi wilayah perkotaan. Sedangkan 21 persen emisi karbondioksida dihasilkan dari penggunaan energi dari sektor transportasi massa.

Rehabilitasi Mangrove

Terkait persoalan tersebut, Guru Besar Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dietriech G Bengen menjelaskan, kondisi Jakarta hanyalah sebagian kecil dari wilayah yang mewakili pesisir di Pulau Jawa. Jika pola pembangunan di seluruh pesisir Jawa tidak mengindahkan lingkungan, seperti dibabatnya vegetasi hutan bakau di sepanjang pantai utara hingga di selatan Jawa, bukan tidak mungkin pada 2050 Pulau Jawa akan “kurus”, akibat sebagian wilayah pesisir tenggelam.
“Laju kenaikan muka air laut bisa dihambat dengan merehabilitasi hutan mangrove di seluruh pesisir Jawa,” ujar Dietriech. Hasil kajian BRKP maupun IPB menyebutkan, dalam lima tahun ke depan sebanyak 2.000 pulau akan hilang dari peta Indonesia akibat naiknya permukaan air laut. “Oleh karena itu Indonesia harus mengerahkan segenap kemampuan untuk mencegah bencana lingkungan tersebut,” tambah Dietriech. [L-11]

Sumber: Suara Pembaruan, 01 Maret 2008
Jakarta


Responses

  1. Posting yang menarik.

    Bang Hendra, saya baca di banyak tempat tentang tenggelamnya Pulau ini. Umumnya informasi yang ditampilkan adalah kenaikan tinggi muka laut yang mencapai 29 cm hingga 2030 atau lebih hingga 50 atau 100 ke depan dan angka fantastis 2000 pulau. Informasi ini menyebar di internet dan koran.

    Sayangnya, saya tidak berhasil memperoleh informasi daftar pulau2 Indonesia terutama yang dilengkapi ketinggian maksimumnya di atas permukaan laut (terutama saat pasang tertinggi). Apakah Bang Hendra atau pembaca blog ini memuliki informasi yang rinci tentang ini?

    Pertanyaan selanjutnya, tanpa data ini bagaimana kita bisa mengatakan 2000 pulau tenggelam. Lebih ekstrim lagi, akakah memang ada setidaknya 2000 pulau di Indonesia yang berkeinggian max 29 cm atau kurang?
    Lihat juga http://www.antara.co.id/arc/2007/5/31/pulau-pulau-rendah-kepri-lenyap-pada-2030/

    Salam

  2. Terima kasih Bung Andi atas komentarnya. Saya akan coba carikan kawan di BRKP yang emndalami tentang ini. Kalau ada info lainnya saya akan teruskan ke Bung Andi via japri.

  3. Sungguhan ta??????

    aduh takut ……..

  4. Mungkin tenggelamnya pelan-pelan ya, tidak seperti tsunami, jd ada banyak cara untuk mencegah dan masih bisa berusaha agar tidak tenggelam. Jadi penduduk masih bisa bersiap-siap menyelamatkan diri dan kalaupun terjadi besar kemungkinan tidak menelan korban jiwa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: