Posted by: Hendra Siry | 26 August, 2009

Kumpulan Berita Kepergian si Burung Merak “Rendra”

Burung Merak” Itu Pun Terbang
Jumat, 7 Agustus 2009 | 03:18 WIB

Jakarta, Kompas – Penyair dan dramawan WS Rendra, yang tenar dijuluki “Si Burung Merak”, kini terbang selamanya. Setelah lebih dari sebulan dirawat akibat serangan jantung koroner di sejumlah rumah sakit, budayawan bersuara lantang ini meninggal di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (6/8) pukul 22.10.

Rendra, menurut keterangan pihak keluarga, akan dimakamkan setelah shalat Jumat hari ini di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok.

Sebelumnya, seniman kelahiran Solo tahun 1935 ini dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak 25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra lalu dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum akhirnya ke RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.

Mas Willy, panggilan akrab penyair yang bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, tetapi kini bernama resmi Wahyu Sulaiman Rendra, gara-gara sakitnya, tak bisa menghadiri pemakaman teman karibnya, Mbah Surip. Penyanyi eksentrik ini mendahuluinya meninggal dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Bengkel Teater, Citayam, Depok, Selasa lalu.

Selain dikenal garang dan lantang menentang ketidakadilan, penyair dan dramawan WS Rendra juga sering kali mengadakan gerakan-gerakan penyadaran kebudayaan, antara lain Perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis, Yogyakarta, pada sekitar tahun 1975.

Ia juga sering menyampaikan Pidato-pidato Kebudayaan yang sering dikutip orang. Seperti ketika ia mengatakan bahwa posisi seorang budayawan yang ideal itu tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun, tetapi kepada kebenaran. Rendra menyebut kelompok ideal seperti ini sebagai “mereka yang berumah di atas angin”.

Proses kreatif Rendra

Dan inilah yang jarang diketahui orang. Proses kreatif Rendra atau Mas Willy, menurutnya dalam sebuah pidato, diperoleh dari kedisiplinan menjalani hidup.

“Adapun disiplin dan cara yang saya maksud itu saya peroleh berkat ajaran yang saya dapat dari Mas Janadi, sejak saya berumur empat setengah tahun,” kata Rendra, dalam pidatonya saat memperoleh Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2006.

Janadi, menurut Rendra, adalah pembantunya, kiriman kakeknya. Meski hanya pembantu, Rendra mengaku ia adalah guru pribadinya. “Ketika saya berada di kelas lima sekolah dasar, Mas Janadi wafat,” ungkap Rendra dalam pidatonya tersebut.

Mengaku lahir dari keluarga Jawa, ajaran Mas Janadi itu menurut Rendra juga mengangkat tradisi Jawa, khususnya Suluk Demak. Bukan tradisi Jawa Mataram Islam.

“Secara ringkas, disiplin dan cara olah kreatif itu dirumuskan dalam kalimat Manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi, yang dalam bahasa Indonesia kontemporer berarti ‘Masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah’.”

Masuk ke dalam kontekstualitas itu, menurut Rendra, bekalnya adalah rewes dan sih katresnan. Rewes adalah kepedulian. Sih katresnan adalah cinta kasih (karisma).

“Maka seorang yang kreatif harus selalu berusaha agar ia selalu mempunyai kepedulian terhadap lingkungan yang mengelilingi dirinya, dari saat ke saat. Mulai dari lingkungan yang terdekat: baju-bajunya, meja tulisnya, lemarinya, negaranya, segenap flora dan faunanya, tetangganya, bangsanya, bumi, langit, samudra, alam semesta raya,” kata Rendra.

“Mas Janadi menganjurkan kepada saya bagaimana mengolah kesadaran pancaindra, kesadaran pikiran, kesadaran naluri dan kesadaran jiwa untuk bisa lebih cermat dalam memedulikan lingkungan.”

“Segenap kesadaran harus dilatih dan dididik agar bisa membeda-bedakan hal dan perkara. Mas Janadi berkata, sikap bijaksana itu artinya bisa membedakan hal dan perkara dalam mempertimbangkan masalah,” kata Rendra dalam pidatonya tahun 2006 itu.

Rendra, yang dikenal melalui penampilan-penampilannya dalam drama seperti Panembahan Reso (1986) ataupun Perjuangan Suku Naga, juga mengaku belajar berbahasa secara baik dari guru bahasa Indonesianya, Ignatius Sunarto.

“Ia berpesan, jangan bosan belajar sintaksis (tata bahasa). Barangsiapa bisa membedakan perkara, tanda ia cerdas,” tuturnya dalam pidato waktu itu.

Latihan peduli

Bukan tanpa proses jika seorang Rendra dulu memiliki kepedulian. “Latihan kepedulian dan kecermatan kepedulian ini harus menjadi usaha sehari-hari sehingga bisa menghasilkan banyak pengetahuan akan detail, dan juga bisa memperdalam dan memperluas wawasan kesadaran jiwa dan pikiran,” kata Rendra.

“Disiplin kepedulian ini harus dilanjutkan dengan langkah ngerangkul, artinya merangkul, yaitu keikhlasan untuk terlibat. Latihan keterlibatan ini harus mulai dari keterlibatan kepada lingkungan terkecil sampai ke lingkungan yang jauh melebar,” kata Rendra pula.

“Mas Janadi selalu memerhatikan, apakah kalau lantai kamar kotor, saya segera menyapunya? Apakah tempat tidur saya selalu teratur rapi? Apakah kalau saya tahu ibu saya memerlukan air di dapur, saya segera mengambil air dari sumur untuknya? Apakah saya ikhlas mengorbankan tabungan saya untuk beli bola bagi klub sepak bola kami yang bolanya tengah rusak? Apakah saya cukup sabar menggendong adikku ke gedung bioskop karena ia sangat ingin menonton film Tarzan, Monyet Putih? Begitu seterusnya.”

Entah secara kebetulan atau apa, menurut pihak keluarga, Mas Willy sebenarnya ingin kembali ke bengkelnya di Depok untuk merayakan tujuh hari meninggalnya Mbah Surip, sahabatnya. Ternyata, ia malah menyusul sang sahabat.

Selamat jalan, Mas Willy. Selamat jalan penyair idola. Selamat jalan, selamat jalan….

(THY/ED/ISW/IAM/CAN/SHA/NAL)

Terbanglah Si Burung Merak

Jumat, 07 Agustus 2009 pukul 01:57:00

Tanpa kejernihan dalam kehidupan bagaimana manusia bisa berdamai dengan kematian?
(WS Rendra, Di mana Kamu, De’Na? 30.12.2004)

JAKARTA – Pekik garang penyair yang juga dramawan, Willibrodus Surendra Broto Rendra, atau akrab dikenal sebagai WS Rendra, tak akan lagi terdengar. Rendra telah tutup mata untuk selamanya, Kamis (6/8) sekitar pukul 22.15 WIB.

Rendra dinyatakan tutup usia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat, setelah sempat dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut, selama hampir satu jam. Rendra berpulang ke haribaan-Nya di usia 73 tahun, setelah berjuang melawan penyakit.

Sewaktu mengembuskan napas terakhir, Rendra yang berjuluk si Burung Merak itu ditemani istri tercinta, Ken Zuraida.

Anak sulung Rendra, Teddy Rendra, sama sekali tak menyangka akan kepergian ayahnya. “Saya merasa sangat kehilangan dan sedih,” kata Teddy.

Jenazah Rendra disemayamkan di ru mah Teddy, di Blok AV No 5 Perumahan Pesona Depok, dan akan dimakamkan hari ini selepas Shalat Jumat.

Ukie, salah satu anggota dari komunitas Bengkel Teater, mengatakan, almarhum Rendra akan dimakamkan hari ini di pemakaman ke luarga RT 02/05 No 16, Kelurahan Cipayung Jaya, Ke camatan Pancoran Mas, Kota Depok.

Makam Rendra berdekatan dengan makam Mbah Surip yang dikebumikan Selasa (4/8) malam.

Rendra sempat keluar masuk rumah sakit. Terakhir dirawat di RS Mitra Kelapa Gading, Jakarta. Sempat pulang, namun, Kamis (6/8) malam, Rendra kembali dilarikan kerumah sakit. ”Mungkin karena ada masalah, akhirnya beliau dibawa ke RS Mitra yang ada di Depok. Jaraknya lebih dekat,” katanya.

Sebelum meninggal, Rendra sempat menjalani perawatan cukup panjang di rumah sakit. Kali pertama, Rendra sempat dibawa ke RS Cinere. Setelah itu, Rendra dirawat ke RS Harapan Kita, sebelum akhirnya menuju RS Mitra Kelapa Gading.

Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Ayahnya, R Cyprianus Sugeng Broto at mo djo, adalah seorang guru. Ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, berprofesi sebagai penari serimpi di Keraton Surakarta.

Rendra mewarisi seluruh bakat seni orang tuanya, dan mengembangkan sejak masih duduk di bangku SMP dan SMA di Solo. Karya pertamanya berupa puisi, cerpen, dan dra ma, ditulis ketika di bangku SMP.

Rendra masuk Islam ketika menikahi Sitoresmi Prabuningrat sebagai istri kedua, pada 12 Agustus 1970. Nama WS diubah menjadi Wahyu Sulaiman. Di dalam Islam, Rendra menemukan kemer de kaan individual untuk beribadah langsung kepada Allah.

Satu atap dengan dua istri membuat Rendra dituding mencari publisitas, dan gemar popularitas. Ia menanggapinya dengan bercanda. Saat menerima tamu dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, misalnya, dia melihat seekor merak jantan jalan beriringan dengan dua betinanya. Rendra menunjuk kearahnya seraya berkata; “Itu Rendra. Itu Rendra”

Sejak itu Rendra dijuluki Si Burung Merak. Dari Sitoresmi, Rendra mendapat empat anak. Sedangkan dengan istri pertamanya, Sunarti, dikaruniai lima anak.

Dengan Ken Zuraida, istri ketiganya, Rendra mendapat dua anak. Sitoresmi dan Sunarti lebih dulu dicerai pada 1979 dan 1981. akb/ruz/has/teg/c06/co8

(-)

Obituari: Hidup Bukanlah untuk Mengeluh dan Mengaduh

Jumat, 7 Agustus 2009 | 03:19 WIB

…Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/Tetapi de mi kehormatan seorang manusia//Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu/meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu/Kita dalah kepribadian/dan harga kita adalah kehormatan kita/Tolehlah lagi ke belakang/ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya….

Dalam percakapan lewat telepon, 4 Agustus lalu, Ken Zuraida, istri budayawan WS Rendra, mengabarkan, “Mas Willy pulang pukul lima hari ini,” dengan nada riang. Saat itu, Rendra sudah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Penyair berjuluk “Si Burung Merak” itu, ujar Ken, tidak akan pulang langsung ke Bengkel Teater Rendra di Cipayung, tetapi menuju rumah Clara Shinta di Depok. “Mas Willy masih harus kontrol. Nanti ada perawat yang menemani,” kata Ken.

Kami benar-benar tak bisa menangkap isyarat nasib. Kamis (6/8) pukul 22.00, Rendra benar-benar pulang untuk selamanya di RS Mitra Keluarga. Tentu ia pergi dengan kepak sayap burung meraknya yang “jantan” dan perkasa.

Sebagaimana puisi yang berjudul “Sajak Seorang Tua untuk Istrinya” yang ditulis Rendra tahun 1970-an, hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh dan bukan pula demi surga atau neraka, tetapi demi kehormatan seorang manusia. Meski ia telah tua dan reyot pada usia 74 tahun, ia menyeru harga kita adalah kehormatan kita.

Rendra, bagi kita, bukan sekadar penyair dan dramawan, ia tegar sebagai manusia dan berani menantang zamannya. Dramawan dan novelis Putu Wijaya yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra semasa di Yogyakarta mengatakan, Rendra guru yang memberikan ilmu, sahabat yang bisa diajak becanda, sekaligus musuh yang menjadi sparring partner. “Murid yang baik adalah murid yang mampu naik ke atas kepala gurunya. Itu selalu kata Mas Willy,” ujar Putu Wijaya.

Putu adalah mantan murid Rendra yang kemudian mendirikan Teater Mandiri. Tentu ungkapan Rendra tidak bermaksud mengajarkan ketidaksopanan kepada seorang murid, tetapi alangkah indahnya jika prestasi murid jauh melebihi gurunya. Putu dengan Teater Mandiri barangkali telah menjadi prestasi lain dalam prestasi dunia perteateran di Tanah Air.

Penyair Sapardi Djoko Damono menuturkan, Rendra adalah “tukang kata” yang telah menyihir dirinya memasuki dunia sunyi seorang penyair. “Ia telah meyakinkan saya untuk bisa dihayati penyair tak boleh berlindung di balik bahasa yang ruwet, hanya dengan demikian kata bisa unggul dari bedil,” kata Sapardi.

Pernyataan itu menjelaskan kepada kita bahwa Rendra sesungguhnya bukan sekadar penyair atau dramawan. Ia memperjuangkan hakikat manusia “bebas”, yang senantiasa berpikir mandiri, tanpa mau ditekan atau dipengaruhi oleh kekuasaan. Itulah yang bisa menjelaskan mengapa pada tahun 1975 sepulang dari bersekolah di American Academy of Dramatic Art, New York, Amerika Serikat, ia menggelar Perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis, Yogyakarta.

Peristiwa itu selalu dikenang Rendra sebagai gerakan penyadaran kebudayaan. Ia selalu mengatakan, “Posisi seorang budayawan yang ideal itu tidak berpihak pada apa pun atau siapa pun, akan tetapi pada kebenaran.”

Maka dari situ kita bisa memahami secara lebih utuh mengapa Rendra menulis sajak-sajak yang dicap sebagai sajak pamflet, yang tidak jarang membawanya berurusan dengan penguasa. Bisa pula dimengerti mengapa ia selalu menuliskan dan mementaskan drama-dramanya yang sarat akan kritik terhadap kesewenang-wenangan penguasa.

Tentu tak seorang lupa akan pementasan drama Panembahan Reso pada pertengahan tahun 1980-an, yang tidak saja berdurasi lebih dari tujuh jam, tetapi juga mengkritik dengan cara menyindir kekuasaan yang absolut pada saat itu.

Kini “Si Burung Merak” boleh pergi, boleh berkubang tanah, tetapi segala hal yang pernah dia kerjakan tidak akan mudah dilumerkan oleh zaman. Rendra tetap ada dalam catatan hari-hari kita menjalani hidup sebagai manusia Indonesia…(CAN/THY/IAM)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: